‘Pantun’ Kekayaan yang Tak Habis Turun-temurun

Konten Media Partner
25 April 2021 11:47
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
‘Pantun’ Kekayaan yang Tak Habis Turun-temurun (364249)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berpantun, Foto: kepri.go.id
Bukan saja sekedar karya sastra, pantun bagi masyarakat melayu Kepulauan Riau adalah kekayaan yang tidak akan habis meski diwariskan turun-temurun.
ADVERTISEMENT
Adalah Rendra Setyadiharja, satu diantara puluhan pemantun di Kepulauan Riau yang masih teguh merawat warisan kekayaan bahasa tutur orang melayu. Kepada kepripedia, Rendra menjelaskan bahwa pantun juga merupakan simbol filosofis sopan dan santun.
“Dari kajian Renward Branstetter menyebutkan bahwa, kata pantun berasal dari dua penggalan kata, yakni ‘pan’ dan ‘tun’ bermakna sopan dan santun,” ujarnya, Minggu (25/4).
Kekayaan warisan yang didapatkan dari pantun menurut Rendra mempunyai sifat multi-budaya, multi-bahasa, multi-agama, dan multi-ras.
“Hebatnya lagi, pantun tidak terikat dengan batasan usia, jenis kelamin, stratifikasi sosial, dan hubungan darah. Pantun merupakan hasil karya sastra bangsa Melayu yang hidup baik dalam ranah great tradition atau little tradition,” jelasnya
Jika ditelisik lebih dalam, pantun merupakan teks sejarah yang menggambarkan realitas sosial kultural bangsa Melayu. Bahkan pada eksistensi praktiknya ditengah masyarakat Kepri hingga saat ini, pantun sering dipergunakan dalam berbagai tempat dan dalam berbagai macam kondisi sosial.
ADVERTISEMENT
“Hakikat pantun itu adalah media untuk berkomunikasi, melakukan pengajaran, dan membentuk jati diri. Dalam kehidupan keseharian masyarakat Kepulauan Riau, pantun selalu diperdengarkan. Keberadaan pantun ibarat garam dalam makanan. Betapa pun makanan diolah dengan canggih tetapi jika tidak ditambah garam, makanan tersebut akan tidak akan enak,” beber pria yang juga menyandang sebagai dosen aktif di salah satu perguruan tinggi swasta Kota Tanjungpinang.
Hal tersebut sejalan dengan ungkapan salah satu pemikir terbaik Indonesia, Poedjawijatna yang menjelaskan bahwa, untuk menyatakan kasih sayang, benci atau tidak suka, tidaklah mudah apalagi harus disampaikan secara langsung, namun jika dengan menggunakan pantun, mengucapkan, mengungkap rasa dan menyampaikan sindiran akan lebih mudah karena pantun dapat “mencubit tanpa menimbulkan rasa sakit”.
ADVERTISEMENT
Mewakili segenap para pelestari pantun, Rendra berharap salah satu warisan yang dimiki Kepulauan Riau ini mampu dirawat oleh generasi muda, sebagai bekal kekayaan warisan dimasa yang akan datang.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020