Konten dari Pengguna

Toleransi Mengubah Segalanya

Kerin Chang

Kerin Chang

Mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kerin Chang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ganmabr ini merupakan ilustrasi yang saya buat sendiri.
zoom-in-whitePerbesar
Ganmabr ini merupakan ilustrasi yang saya buat sendiri.

Apakah kalian tahu pada 16 November lalu kita merayakan Hari Toleransi Internasional? Toleransi adalah rasa yang seharusnya dimiliki seseorang sejak dini. Dalam keseharian kita, toleransi memiliki peran penting. Kehidupan keluarga, kehidupan sosial dan lingkungan kita membutuhkan rasa saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Rasa menghargai sesama menimbulkan toleransi yang tinggi. Namun, bagaimana jika kita tidak mengenal rasa toleransi?

Toleransi mengubah segala aspek dalam unsur kehidupan kita. Ketika kita tidak memiliki rasa toleransi dalam aspek agama, kita akan terjerumus dalam radikalisme agama. Aspek budaya dan sosial jika tidak ada toleransi akan muncul rasisme dalam perbedaan budaya. Seperti pada kasus 2009 terdapat sebuah kasus yang melibatkan seorang nenek berusia 55 tahun. Nenek Minah berasal dari Banyumas, Sang nenek hidup sederhana dan memiliki empat orang anak. Peristiwa ini terjadi ketika Nenek Minah sedang bekerja di perkebunan dan melihat buah kakao. Ia memutuskan untuk memetik buah kakao tersebut dari pohon perkebunan tempat ia bekerja. Peristiwa ini dilihat oleh sang mandor dan Nenek Minah ditegur atas perbuatannya. Nenek Minah yang tidak tahu akhirnya meminta maaf pada sang mandor. Nenek Minah berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya dan mengembalikan 3 buah kakao yang sebelumnya ia petik.

Nenek Minah merasa bahwa permasalahan sudah selesai pada hari itu. Namun, Sang mandor memutuskan untuk melaporkan perbuatan nenek ke meja hijau dengan tuduhan pencurian. Akhirnya, Nenek Minah dijatuhi hukuman 1 bulan 15 hari penjara dalam masa percobaan 3 bulan. Nenek Minah dikenakan pasal 362 KUHP tentang pencurian. Permasalahan yang seharusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan harus berakhir di jeruji besi. Sikap sang mandor yang tidak memiliki rasa toleransi mengakibatkan seorang nenek berusia 55 tahun harus masuk ke penjara. Kasus ini dapat diselesaikan dengan baik tanpa melibatkan pihak yang berwajib, terlebih ketika Nenek Minah sudah meminta maaf dan mengembalikan hasil buah yang ia petik sebelumnya.

Tanpa kita sadari rendahnya rasa toleransi merupakan sifat para penjajah. Tanah air kita memang sudah lama merdeka dari para penjajah. Namun, mengapa kita tidak bisa menghargai dan menghormati satu sama lain sebagai satu kesatuan bangsa? Melihat kasus yang terjadi di Indonesia seharusnya membuat kita lebih toleransi. Keberagaman bukanlah suatu hal yang buruk tetapi kita harus menerimanya sebagai suatu hal yang indah. Para pahlawan mengajarkan kita untuk memiliki rasa toleransi melalui perjuangan mereka. Kita harus bisa menjaga negara kita dengan rasa toleransi yang ada. Masih banyak kasus yang sama seperti kasus Nenek Minah dan rasisme terhadap masyarakat Papua. Ketika hukum terlalu tumpul ke atas tetapi terlalu tajam ke bawah, menyengsarakan rakyat kecil. Ketidakadilan yang terjadi disebabkan oleh rasa toleransi yang rendah. Menurutmu bagaimana jika semua warga Indonesia memiliki rasa toleransi yang tinggi?