Konten dari Pengguna

Pra Kongres Seniman dan Saptohoedojo Award II Gelar Peringatan Kemerdekaan

SEVIMA

SEVIMA

Sentra Vidya Utama (Sevima) adalah Education Technology yang berdiri sejak tahun 2.004, dengan komunitas dan pengguna platform yang tersebar di lebih dari 1.000 kampus se-Indonesia. Bersama kita revolusi pendidikan tinggi, #RevolutionizeEducation!

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

YOGYAKARTA – Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, KOSETA (Komunitas Seniman dan Ekonomi Tanah Air) menggelar rangkaian acara istimewa di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, pada 28 hingga 31 Agustus 2025. Acara yang bertajuk Pra Kongres Seniman KOSETA dan Saptohoedojo Award II ini mengusung tema besar “Merdeka Berdaya: Seni, Ekonomi, dan Keseimbangan”, menampilkan beragam acara yang mempertemukan seniman, pelaku UMKM, akademisi, dan pemerintahan.

Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan yang meriah oleh Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG, Walikota DIY, yang turut didampingi oleh sejumlah tokoh penting seperti GBPH Prabukusumo, Sigit Sugito (Ketua KOSETA ADILUHUNG Yogyakarta), dan berbagai tokoh masyarakat lainnya. Dalam sambutannya, Hasto Wardoyo menekankan pentingnya peran seni dan budaya dalam mendorong ekonomi kerakyatan serta menjaga kedaulatan budaya Indonesia.

"Yoga menjadi simbol keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa. Ini juga mencerminkan bagaimana KOSETA berhasil menyatukan berbagai elemen masyarakat, termasuk seniman, pelaku UMKM, akademisi, hingga pemerintahan, untuk mendukung Indonesia yang berdaulat dalam budaya dan mandiri secara ekonomi," ujar Martha Triana Hidayat dari komunitas Yoga Outdoor Maguwo PPYNI Sleman yang berpartisipasi dalam acara tersebut.

Acara ini dirangkai dengan berbagai kegiatan seperti bazar UMKM, panggung seni, perlombaan, diskusi panel, dan performance yoga yang turut melibatkan 60 praktisi yoga. Selain itu, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan musik etnik Alex yang mengiringi gerakan yoga di amphitheater pada Sabtu pagi.

Salah satu daya tarik utama dari acara ini adalah Pasar Merdeka, yang dibuka oleh Hasto Wardoyo dan melibatkan para pelaku UMKM dari Yogyakarta dan sekitarnya. Bazar ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat produk-produk kreatif dan inovatif dari para pelaku usaha lokal. Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati berbagai karya seni yang dipamerkan selama acara.

Pada kesempatan yang sama, DPW IKA Universitas Islam Indonesia (UII) juga turut hadir dengan membuka stand sebagai ruang silaturahmi bagi alumni yang ingin berbagi pengalaman dan berdiskusi. "Kami membuka stand DPW IKA UII DIY sebagai ruang silaturahmi alumni singgah minum teh dan snack tukar pikiran. Kami juga mempersembahkan acara simulasi teknologi & mesin gempa oleh Prof. Ir Sarwidi," ungkap Ir Budhi Wibowo, Ketua Bidang Bisnis DPW IKA UII DIY.

Selain bazar dan pameran seni, acara ini juga menghadirkan berbagai panel diskusi yang membahas topik-topik krusial seputar koperasi, ekonomi mandiri, serta tantangan keuangan digital. Beberapa narasumber dari berbagai latar belakang hadir untuk berbagi ilmu dan pengalaman, di antaranya Ir. Ahmad Syauqi Soeratno, MM (DPD RI), Ir. Sri Nurkyatsiwi, M.M.A (Kadin KOP & UMKM DIY), Robby Kusumaharta (KADIN DIY), serta sejumlah akademisi dan tokoh masyarakat lainnya.

Dalam sesi diskusi mengenai "Koperasi dan Ekonomi Mandiri", mereka sepakat bahwa membangun koperasi seniman adalah langkah yang penting dalam menciptakan kemandirian ekonomi bagi pelaku seni dan budaya. "Kita perlu membangun ekosistem koperasi yang mendukung keberlangsungan usaha seni dan budaya. Ini bukan hanya tentang menghasilkan keuntungan, tetapi juga tentang mempertahankan warisan budaya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ungkap Solihul Hadi, SH, MKn (DPRD II Kota).

Acara ini diakhiri dengan penyerahan penghargaan Saptohoedojo Award II kepada individu dan kelompok yang berkontribusi signifikan dalam bidang seni, budaya, dan ekonomi kreatif. Penghargaan ini diberikan kepada seniman dan tokoh yang telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam memajukan budaya Indonesia, khususnya dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Foto: Istimewa

"Saya merasa sangat terhormat menerima penghargaan ini. Terima kasih kepada KOSETA dan semua pihak yang mendukung perkembangan seni dan budaya Indonesia," ujar salah satu penerima penghargaan yang merasa bangga atas pengakuan terhadap kontribusinya.

Gelaran ini juga menonjolkan pentingnya kolaborasi antara berbagai sektor mulai dari seni, ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan terutama dalam memajukan budaya Indonesia. Salah satu tujuan utama acara ini adalah untuk membangun kesadaran akan pentingnya budaya dalam memajukan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui koperasi dan ekosistem usaha kreatif, acara ini bertujuan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih mandiri dan berdaya saing di dunia internasional.

“Acara ini juga menjadi momentum bagi kita semua untuk merenungkan dan memperkuat kembali pentingnya seni dan budaya sebagai bagian dari kekuatan ekonomi bangsa. Melalui koperasi, kita dapat menyatukan usaha kecil, menciptakan peluang kerja, dan meningkatkan daya saing budaya Indonesia di pasar global,” pungkas Martha Triana Hidayat, yang juga mengapresiasi suksesnya acara ini.

Melalui Pra Kongres Seniman KOSETA dan Saptohoedojo Award II, yang dilaksanakan di Yogyakarta, Indonesia menunjukkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi pilar ekonomi yang kuat. Dengan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat, Indonesia dapat membangun ekonomi yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan. Gerakan ini membuktikan bahwa dengan semangat kemerdekaan yang tinggi, Indonesia mampu mengembangkan kekayaan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui seni dan koperasi.

Sumber: bernas.id