Konten dari Pengguna
Rektor UNAND Bahas ICOR Indonesia di Simposium Nasional Kependudukan 2025
18 September 2025 11:38 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Rektor UNAND Bahas ICOR Indonesia di Simposium Nasional Kependudukan 2025
Rektor Universitas Andalas (UNAND), Efa Yonnedi, Ph.D., menjadi salah satu narasumber dalam Plenary Session II Simposium Nasional Kependudukan 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Padang SEVIMA
Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
PADANG – Rektor Universitas Andalas (UNAND), Efa Yonnedi, Ph.D., menjadi salah satu narasumber dalam Plenary Session II Simposium Nasional Kependudukan 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Padang (UNP) bekerja sama dengan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN), pada Kamis (11/9/2025). Simposium ini mengangkat tema besar “Membangun Penduduk Berkualitas, Keluarga Tangguh, dan Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Maju” yang bertujuan memperkuat kolaborasi antara seratus perguruan tinggi negeri di seluruh Indonesia dengan kementerian/lembaga terkait.
ADVERTISEMENT
Kegiatan yang dihadiri oleh berbagai rektor dan akademisi ternama dari seluruh Indonesia ini bertujuan untuk merumuskan solusi atas tantangan-tantangan yang dihadapi Indonesia dalam aspek kependudukan, keluarga, serta ekonomi inklusif. Dalam acara tersebut, Rektor UNAND Dr. Efa Yonnedi menyampaikan paparan mengenai pentingnya ICOR (Incremental Capital-Output Ratio) sebagai indikator efisiensi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.
Dalam sesi plenary tersebut, Dr. Efa Yonnedi menekankan bahwa penurunan ICOR yang efektif sangat krusial untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. “Strategi pengembangan infrastruktur, adopsi teknologi, hingga reformasi kebijakan secara kolektif akan berkontribusi menurunkan ICOR dan menciptakan lingkungan investasi yang kondusif,” ungkap Dr. Efa.
Ia menjelaskan bahwa salah satu langkah penting dalam menurunkan ICOR adalah dengan memprioritaskan investasi pada pendidikan, inovasi, dan pengembangan tenaga kerja terampil. Dengan kebijakan yang transparan dan efisien, Indonesia dapat meningkatkan produktivitasnya dengan kebutuhan modal yang lebih rendah. “Menurunkan ICOR bukan hanya tentang efisiensi modal, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan serta pemerataan pembangunan regional,” lanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pengurangan ICOR harus disertai dengan kebijakan yang memadukan pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan yang saling mendukung.
ADVERTISEMENT
Dalam simposium yang berlangsung di kampus UNP tersebut, Sekretaris Utama BKKBN, Prof. Budi Setyono, S.Sos., M.Pol. Admin., Ph.D., memberikan keynote speech yang sangat relevan dengan pembahasan yang diangkat dalam acara tersebut. Dalam pidatonya, Prof. Budi menekankan pentingnya pengelolaan bonus demografi sebagai peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi negara maju. “Perguruan tinggi harus berada di garda terdepan dalam riset, inovasi, dan pendampingan masyarakat. Ini adalah waktu yang tepat bagi perguruan tinggi untuk mempersiapkan generasi muda yang berkualitas, berdaya saing, dan mampu berkontribusi pada pembangunan keluarga serta bangsa,” ujar Prof. Budi.
Hal ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis yang sangat vital dalam menghadapi tantangan demografi Indonesia, serta dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul. Sebagai pusat ilmu pengetahuan dan pengembangan riset, perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab dalam menciptakan lulusan yang kompeten, tetapi juga harus menjadi aktor utama dalam menyelesaikan masalah sosial yang ada.
ADVERTISEMENT
Simposium ini terdiri dari tiga sesi plenary yang masing-masing mengangkat tema-tema penting terkait dengan perkembangan kependudukan dan ekonomi di Indonesia. Plenary Session I yang mengangkat tema “Dinamika Kependudukan dan Pembangunan Keluarga” diisi oleh rektor-rektor dari Universitas Mulawarman, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Negeri Padang. Sedangkan Plenary Session II, yang lebih fokus pada Transformasi Ketenagakerjaan dan Produktivitas Ekonomi, diisi oleh Rektor UNAND, Prof. Efa Yonnedi, bersama rektor dari Universitas Borneo Tarakan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Pattimura, serta Prof. Fasli Jalal, Ph.D.
Kemudian, Plenary Session III yang membahas Ketimpangan, Urbanisasi, dan Pembangunan Berkelanjutan, menghadirkan rektor-rektor dari Universitas Malikussaleh, Universitas Lampung, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Sebelas Maret, dan Universitas Sriwijaya. Ketiga sesi plenary tersebut memberikan pandangan mendalam mengenai berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mencapai pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
Keberhasilan simposium ini memperlihatkan peran penting yang dimainkan oleh perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengatasi masalah kependudukan, keluarga, dan ekonomi Indonesia. Melalui platform seperti ini, perguruan tinggi dapat berbagi wawasan, berbicara tentang riset terbaru, serta mencari solusi bersama untuk berbagai tantangan yang dihadapi bangsa.
Simposium ini juga menjadi ajang bagi perguruan tinggi untuk memperkuat jejaring mereka dengan kementerian dan lembaga pemerintah yang terkait, serta dengan lembaga internasional dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Sebagai contoh, partisipasi dalam simposium ini memperlihatkan bagaimana UNAND berperan aktif dalam percakapan internasional terkait dengan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan bagaimana strategi pengurangan ICOR dapat menjadi solusi penting dalam pencapaian tujuan tersebut.
Dengan partisipasi aktif dalam acara seperti Simposium Nasional Kependudukan 2025, Universitas Andalas semakin mempertegas komitmennya untuk menjadi perguruan tinggi yang berperan dalam pembangunan bangsa. Rektor UNAND, Prof. Efa Yonnedi, menjelaskan bahwa upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan harus seiring dengan upaya untuk memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global. “Kami berharap kontribusi yang kami berikan dapat mendorong tercapainya tujuan pembangunan ekonomi dan sosial Indonesia yang lebih inklusif,” ungkap Prof. Efa Yonnedi.
ADVERTISEMENT
Sumber: unand.ac.id

