kumparan
3 Jan 2019 17:13 WIB

2.000 Jemaah RI Batal Berangkat Umrah karena Aturan Visa Baru Saudi

Ribuan Jemaah Haji Berkumpul di Jabal Rahmah (Foto: AFP/Ahmad Al-Rubaye)
Permusyawaratan Antarsyarikat Travel Umrah dan Haji (Patuhi) menyatakan keberatan dengan pemberlakuan kebijakan baru visa dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Jemaah umrah diwajibkan melengkapi dokumen data biometrik berupa rekam sidik jari dan retina mata di operator Visa Facilitation Services (VFS) Tasheel.
ADVERTISEMENT
Kebijakan yang baru berlaku pada 17 Desember 2018 ini nyatanya sudah bikin pengusaha travel atau penyelenggara umrah dan jemaah geleng-geleng. Pihak penyelenggara bahkan harus membatalkan beberapa keberangkatan jemaah karena data biometrik yang diperlukan belum lengkap.
“Dengan tertundanya keberangkatan tiket hangus. Penyelenggara nanggung lalu hotel satu, dua, tiga malam pertama hangus. Sekitar 2 ribu jemaah tertunda (pascapenerapan pengurusan data biometrik) proyeksi kerugian Rp 30 miliar,” ucap Sekretaris Jenderal Patuhi, Muharom Ahmad, usai konferensi pers di Penang Bistro Cafe, Jakarta Pusat, Kamis (3/1).
Ibadah haji tahun 2018. (Foto: Zohra Bensemra/Reuters)
Menurut Muharom perhitungan proyeksi kerugian tersebut berdasarkan asumsi paket umrah rata-rata Rp 15 juta per orang. Sementara terdapat sekitar 2.000 jemaah yang sudah membayar paket umrah tersebut sejak 17 Desember 2018.
ADVERTISEMENT
Belum lagi kerugian yang ditanggung oleh jemaah baik uang, waktu dan tenaga. Direktur Eksekutif Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), Ali Basuki Rochmad, menambahkan setiap jemaah diwajibkan membayar biaya administratif sebesar USD 7 atau sekitar Rp 101.500 (kurs 14.500).
“Hal ini tentu memberatkan bagi yang di daerah-daerah. Karena mereka harus ke Jakarta lagi untuk urus biometrik. Belum lagi kalau sampai 2-3 hari di Jakarta kan rugi uang, akomodasi, dan lain-lain,” katanya.
Jumlah jemaah umrah Indonesia setiap tahunnya meningkat. Pada tahun 2016 jumlah jemaah umrah Indonesia sekitar 600 ribu orang. Kemudian di 2017 naik menjadi 800 ribu jemaah. Sedangkan di 2018 naik lagi menjadi 1,05 juta jemaah.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan