kumparan
10 Okt 2019 9:41 WIB

3,06 Juta Tenaga Kerja Industri Akan Tersertifikasi di 2024

Sejumlah buruh pabrik di Jalan Industri. Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan bakal melakukan sertifikasi terhadap 3.068.400 atau 3,06 juta tenaga kerja industri sepanjang periode 2020-2024.
ADVERTISEMENT
Hingga akhir tahun ini, sertifikasi tenaga kerja industri akan mencapai total 15.060 tenaga kerja di 15 provinsi atau 42 kabupaten atau kota pada sektor batik, garmen, tekstil, elektronika, pupuk, otomotif, pupuk, otomotif, perkapalan, semen.
Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Industri, Kemenperin, Jonni Afrizon menjelaskan, langkah itu bertujuan untuk meningkatkan daya saing industri. Yaitu, melalui upaya penyiapan SDM berkualitas.
"Tenaga kerja tersertifikasi tahun 2020-2024 target total 3 juta-an (3,06 juta), agar apabila industri (RI) yang menghasilkan produk yang tujuannya ekspor, apabila suatu hari disyaratkan ekspor maka sudah bisa bersaing dengan negara lain," ujar Jonni Afrizon kepada kumparan, Rabu (9/10).
Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Industri, Kementerian Perindustrian, Jonni Afrizon. Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan
Jonni tak memungkiri, persoalan ketenagakerjaan yang banyak terjadi kini ialah para tenaga kerja Indonesia yang memiliki kemampuan yang belum sesuai dengan kebutuhan industri.
ADVERTISEMENT
"Di satu sisi perusahaan kesulitan mencari tenaga kerja yang dibutuhkan, tapi pencari kerja juga kesulitan mendapatkan pekerjaan. Kenapa? karena tidak ada hedging dengan kebutuhan dan skill yang dimiliki," papar dia.
Untuk itu, kata dia, Kemenperin menggencarkan program pengembangan vokasi industri yaitu meliputi pendidikan vokasi menuju dual sistem model, pembangunan poltek di kawasan industri, pembangunan link and match SMK dan industri, pendidikan sistem 3 in 1, sertifikasi kompetensi tenaga kerja industri, pengembangan SDM industri.
Upaya untuk mendukung sertifikasi tenaga kerja itu, Jonny menekankan salah satunya melalui sertifikasi di tingkat sekolah vokasi dilakukan. Dalam hal ini, tak lepas dari link and match SMK dan industri serta poltek industri hingga pendidikan vokasi dual system.
Fasilitas bordir komputer di Balai Diklat Industri Padang, Sumbar, Rabu (9/10/2019). Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan
kumparan (9/10) berkesempatan mengunjungi salah satu sekolah yang saat ini mengaplikasikan dual system serta melakukan sertifikasi untuk para lulusannya. Ialah SMA SMAK Padang, Sumatera Barat, yaitu sekolah kejuruan yang di bawah naungan Kementerian Perindustrian yang berfokus dalam bidang analisis kimia.
ADVERTISEMENT
Kepala SMK SMAK Padang Nasir menuturkan dalam dual system itu sekolah dijalankan dengan berbasis kompetensi dan link and match. Dilengkapi pula workshop, laboratorium, teaching factory sesuai standar industri serta LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) dan (TUK Tempat Uji Kompetensi).
"Sekolah ini menjadi tempat pelatihan guru produktif se-Sumatera dalam rangka link and match dan revitalisasi SMK. Kita juga ada macam-macam kunjungan, seperti kunjungan industri dan studi banding, industri nuklir di Malaysia, perusahaan air minum ATB Batam, dan perusahaan pengolahan limbah Ceviro di Malaysia," terangnya ketika ditemui di SMA SMAK Padang, Sumbar, Rabu (9/10).
Fasilitas bordir komputer di Balai Diklat Industri Padang, Sumbar, Rabu (9/10/2019). Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan
Selain itu, ia pun mengungkap berbagai nota kesepakatan untuk menghubungan SMA SMAK Padang dan industri pun juga telah dilakukan. Baik dalam maupun luar negeri seperti, PT ATB Batam, Politeknik AKA Bogor, PT Mayora, PPPPTK (P4TK) Bandung, Hobart Technology Australia, Photaram Technical College Thailand, dan Nanjing Polytechnic.
ADVERTISEMENT
Waka Bidang Kurikulum SMK SMAK Padang Fitriyeni menambahkan, pihaknya juga melakukan sertifikasi terhadap para siswanya. Meliputi, Sertifikasi Kompetensi Nasional LSP-P1 SMK SMAK Padang, dan sertifikasi kompetensi internasional Hobart Technology Australia.
Suasana pembelajaran di SMA SMAK Padang, Sumbar, Rabu (9/10). Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan
Dengan begitu, kata dia, para siswanya lebih siap untuk terjun ke dunia kerja. Hal itu terbukti dengan data penyerapan lulusannya yang mayoritas langsung bekerja.
"Per September ini dari 192 siswa, 100 orang terserap bekerja sebelum wisuda, 48 kuliah dan sisanya masa tunggu selama 3 bulan untuk bekerja ini," tandas Fitri.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan