3 Desain Ini Akan Jadi Dasar Pembangunan di Ibu Kota Baru

25 Desember 2019 11:16
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
3 Desain Ini Akan Jadi Dasar Pembangunan di Ibu Kota Baru (58893)
zoom-in-whitePerbesar
Foto aerial proyek pembangunan jalan Tol Balikpapan-Samarinda yang melintasi wilayah Samboja di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah mengumumkan pemenang sayembara desain ibu kota baru atau Ibu Kota Negara (IKN) baru‎. Desain itu akan dipakai sebagai dasar Detail Engineering Design (DED) IKN baru.
ADVERTISEMENT
Adapun juara I diraih oleh desain Nagara Rimba Nusa, juara II diraih oleh The Infinite City, juara III diraih oleh Kota Seribu Galur.
Sayembara yang dimulai 3 Oktober 2019 itu diikuti oleh 755 peserta, baik dalam maupun luar negeri. Sementara jurinya yakni Ketua Satgas Perencanaan Pembangunan Infrastruktur IKN Imam Santoso Ernawi‎, hingga Gubernur Jabar Ridwan Kamil.
Menurut Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Danis Sumadilaga, nantinya 3 besar sayembara ini akan dikolaborasikan untuk menajamkan desain IKN. Rencananya pada Januari 2020, ketiga besar ini akan diajak survei lapangan.
“Iya, tujuannya untuk menyusun desain yang lebih rinci,” ujarnya kepada kumparan, Rabu (25/12).
Berikut 3 besar desain Sayembara IKN
1. Nagara Rimba Nusa
ADVERTISEMENT
Berdasarkan dokumen lomba, desain ini berkonsep nusa di antara air. Artinya kota didesain bersahabat dengan air yang direkayasa mutakhir mengedepankan pendekatan hybrid, yakni naturalistik seperti wetland filtration & mangrove protection, serta artifisial seperti barrage.
Lalu desain ini juga berkonsep nusa di antara hutan. Maksudnya yakni sistem distrik dan kota sebagai pulau yang dikelilingi hutan (jaringan hijau dan biru) sebagai koridor ekologis untuk melestarikan hutan dan pengendalian pertumbuhan kota.
3 Desain Ini Akan Jadi Dasar Pembangunan di Ibu Kota Baru (58894)
zoom-in-whitePerbesar
Desain Nagara Rimba Nusa yang memenangkan Sayembara Desain Ibu Kota Baru. Foto: Resya Firmansyah/kumparan
2. The Infinite City
Desain juara kedua ini berkonsep menjadikan IKN sebagai standar baru untuk kota-kota global di dunia. Didorong oleh inovasi, keberlanjutan, persatuan dan kekokohan, desain ini menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan secara universal, baik bagi warga kota maupun bagi ekologi flora dan fauna lokal.
ADVERTISEMENT
Dengan mendefinisikan paradigma baru antara hubungan manusia dengan alam, desain ibu kota Indonesia ini akan menciptakan sinergi langsung di antara prinsip-prinsip hidup masyarakat Indonesia dan kekayaan sejarahnya, sinergi antara tubuh, pikiran dan jiwa.
Melalui intelligent design, passive systems dan inovasi teknologi, ibu kota baru ini didesain berdampak untuk menjadi model dalam membangun kawasan kota baru bagi manusia, di mana di dalamnya terdapat harmoni yang berkesinambungan antara arsitektur, manusia dan alam melalui desain yang berdampak minimal terhadap alam hayati.
3. Kota Seribu Galur
Sebagai negara besar yang memiliki lebih dari 300 kebudayaan dan seribu tahun sejarah, ada satu hal yang mengikat Indonesia ke dalam satu rangkaian kesatuan – tradisi menganyam. Tradisi tekstil Indonesia dapat ditelusuri hingga pada saat migrasi awal bangsa Austronesia sekitar 3000 tahun yang lalu.
ADVERTISEMENT
Teknik anyaman istimewa yang kita temui saat ini berasal dari migrasi besar dari dataran Asia. Oleh karena itu, hal tersebut menggambarkan kiasan yang sangat tepat untuk persatuan Indonesia Raya sebagai negara yang dibangun atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini yang menjadi inspirasi desain Kota Seribu Galur.
Menenun sebagai metafora dari berkumpulnya bangsa Indonesia sebagai satu kesatuan identitas nasional. Tenun sebagai konsep perencanaan tata kota adalah hal yang sangat sesuai untuk menyatukan berbagai macam elemen tapak yang berbeda seperti topografi, geografi, budaya lokal, lanskap serta pemukiman.
Grid kota yang ditentukan dari proses ini adalah rangkaian kurva-kurva tertib yang mengikuti baik dari topografi tapak maupun kebutuhan pragmatis dari segi transportasi dan zona perkotaan. Seperti halnya tenunan benang khas Indonesia Raya, ibu kota baru ini memiliki seluruh fungsi yang disintesis menjadi rangkaian relasi kompleks yang harmonis.
ADVERTISEMENT