kumparan
21 Feb 2019 8:55 WIB

5 Fakta Pertemuan Jokowi dan Bos Freeport yang Diungkap Sudirman Said

Direktur Materi dan Debat BPN Prabowo-Sandi, Sudirman Said, saat di konferensi pers BPN Prabowo-Sandi di Media Center BPN, Jakarta, Senin (18/2). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Isu tentang divestasi saham Freeport kembali mencuat setelah mantan Menteri ESDM Sudirman Said mengungkap adanya pertemuan 'rahasia' antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan bos Freeport McMoRan Inc (FCX) kala itu, James R Moffett, pada 6 Oktober 2015.
ADVERTISEMENT
Pernyataan Sudirman Said ini membuat gerah pemerintah. Menteri ESDM Ignasius Jonan pun mengklarifikasi hal tersebut, pun dengan Jokowi sendiri. Malam-malam, mereka menggelar konferensi pers terpisah untuk menjelaskan pertemuan tersebut versi mereka.
Berikut kumparan rangkum:
1. Sudirman Said Sebut Pertemuan Jokowi-Moffett Dirahasiakan
Sudirman yang saat ini menjadi Direktur Materi dan Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi mengatakan pertemuan dilakukan pada 6 Oktober 2015. Pagi itu, dia diminta untuk datang ke Istana Negara.
Sesampainya di sana, Sudirman diminta ajudan presiden bahwa pertemuan ini tidak dalam agenda presiden. Dengan kata lain, pertemuan pukul 08.30 WIB tersebut rahasia.
2. Sudirman Said Kaget Ada James Moffet
Dalam pertemuan rahasia itu, Sudirman Said mengaku kaget karena ada orang nomor satu FCX saat itu, James R Moffett. Kata dia, dalam pertemuan itu, Moffett membawa draft yang isinya merepresentasikan permohonan perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia di Papua.
ADVERTISEMENT
Sudirman Said protes kepada Moffett, sebab draft yang dibawa tersebut menyalahi aturan karena kepastian perpanjangan izin kontrak baru bisa diberikan pemerintah dua tahun sebelum masa kontrak habis 2021, yakni pada 2019.
3. Sudirman Buat Surat Balasan ke Moffett Atas Permintaan Jokowi
Selang sehari dari pertemuan rahasia itu, Sudirman membuat surat balasan Moffett. Isi surat ini menjadi kontroversi di masyarakat karena di dalamnya menyiratkan pemerintah memberikan perpanjangan izin kontrak ke FCX untuk tambang PTFI. Isi surat ini menurut sejumlah pihak menunjukkan sikap lemah negara terhadap korporasi asing.
Tapi, Sudirman membantah surat itu sebagai bentuk perpanjangan kontrak. Berdasarkan penelusuran kumparan, saat itu Kementerian ESDM langsung membantah tuduhan publik atas isi surat itu.
ADVERTISEMENT
Tapi, dalam forum kemarin, Rabu (20/2) Sudirman Said mengungkapkan, kalaupun dirinya bersalah telah menulis surat tersebut, itu karena diperintah Jokowi usai pertemuan rahasia dengan Moffett.
"Mengenai surat 7 Oktober 2015 itu seolah-olah saya yang memberikan perpanjangan kontrak. Itu persepsi publik. Jadi kalau ada yang menyalahkan saya membuat surat itu, maka salahkan yang memerintahkan saya membuat surat itu," kata dia.
4. Jokowi Membantah Pertemuan dengan Moffett Bersifat Rahasia
Pernyataan Sudirman Said sampai ke Istana Negara. Malam-malam, Jokowi memberikan klarifikasi bahwa pertemuan dengan Moffett dilakukan terbuka, bukan diam-diam.
Dia bahkan mengatakan pertemuan dilakukan tidak sekali dua kali, melainkan lebih dari itu. Dia pun menjelaskan, pertemuan tersebut memang komunikasi tentang perpanjangan kontrak PTFI hingga 2041.
ADVERTISEMENT
"Enggak sekali dua kali ketemu, gimana sih kok diam-diam. Ya Ketemu bolak-balik, enggak ketemu sekali dua kali. Dia kan minta perpanjangan. Pertemuan bolak-balik memang yang diminta perpanjangan, terus apa?" kata Jokowi.
5. Menteri ESDM Ignasius Jonan Angkat Bicara
Menteri ESDM Ignasius Jonan juga angkat suara terkait pertemuan rahasia tersebut. Sebagai menteri yang menggantikan posisi Sudirman Said, kata dia, dirinya sama sekali tidak tahu soal pertemuan rahasia yang dimaksud mantan Calon Gubernur Jawa Tengah itu.
Kata dia, saat dirinya ditugaskan menjadi Menteri ESDM pada Oktober 2016, Jokowi memang meminta pihaknya segera menyelesaikan negosiasi dengan FCX terkait perpanjangan izin. Tapi dia tidak mengetahui perihal surat Sudirman Said yang kontroversial.
Tapi Jonan menegaskan, negoisasi itu mengacu pada 4 syarat yang diminta Jokowi kepada bos FCX yang baru, Richard Adkerson. Selama dua tahun negosiasi pun (2016-2018), Jonan menuturkan Jokowi dua kali menolak untuk bertemu Adkerson.
ADVERTISEMENT
Jonan menegaskan bahwa surat Sudirman Said itu sama sekali tak ada kaitannya dengan hasil negosiasi yang sudah dicapai dengan Freeport hari ini.
"Enggak tahu saya, ya ditanyakan saja kepada penduduk setempat ini. Tapi misalnya toh pertemuan itu ada dan surat itu ada, itu enggak releven lagi. Semasa saya ditugaskan ke sini ditinggalkan semua (surat itu), mulai dari nol. Saya ingin klarifikasi saja karena saya ditugaskan di sini," katanya tadi malam (20/2) di kantornya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan