Bisnis
·
7 Juli 2021 12:01
·
waktu baca 2 menit

82 Persen Nelayan Tak Dapat Akses BBM Bersubsidi di Tengah Pandemi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
82 Persen Nelayan Tak Dapat Akses BBM Bersubsidi di Tengah Pandemi (412210)
searchPerbesar
Dua orang nelayan mengisi BBM.. Foto: Idhad Zakaria/Antara Foto
Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) merilis hasil survei dampak pandemi terhadap aktivitas kerja nelayan di Indonesia pada Mei 2021. Survei ini dilakukan di 10 provinsi, 25 kabupaten kota dengan 5.292 nelayan serta 224 surveyor.
ADVERTISEMENT
Ketua Umum KNTI Riza Damanik mengatakan, salah satu hasil temuan dalam survei ini yaitu sebanyak 82 persen nelayan tidak memiliki akses terhadap BBM bersubsidi. Padahal, pemerintah telah membuat program bantuan subsidi BBM bagi nelayan kecil.
“Tapi di sisi lain ada permasalahan yang serius, 82 persen nelayan mengaku tidak memiliki akses bbm bersubsidi meskipun ini sudah dialokasikan sebagaimana keputusan pemerintah dan DPR. Tapi pada kenyataanya nelayan kecil tidak memiliki akses bbm bersubsidi,” katanya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (7/7).
Riza menjelaskan, persoalan ini akan membuat biaya operasional nelayan dalam mencari ikan makin tinggi, apalagi di tengah pandemi COVID-19.
82 Persen Nelayan Tak Dapat Akses BBM Bersubsidi di Tengah Pandemi (412211)
searchPerbesar
BBM jenis yang digunakan nelayan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (1/6/2021). Foto: Basri Marzuki/Antara Foto
Berdasarkan hasil survei tersebut dijelaskan alasan nelayan tidak membeli BBM bersubsidi antara lain sekitar 38,42 persen tidak memiliki surat rekomendasi pembelian BBM, lalu 36,20 persen tidak mengetahui ada BBM bersubsidi, 22,24 persen tidak ada penjual BBM bersubsidi di sekitar lokasi, lalu 1,91 persen selalu kehabisan.
ADVERTISEMENT
Beberapa alasan lainnya yaitu 0,88 persen lebih murah dan mudah membeli BBM non-subsidi, 0,18 persen baru tahu ada BBM bersubsidi, 0,10 persen bos yang membeli BBM bersubsidi, dan 0,08 persen terlalu jauh.
“Jadi yang dapat akses 5 persen, sebagian besar 83 persen di penjual eceran yang harga relatif tinggi SPDN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak). Tentu memberikan pukulan yang lebih besar terhadap masyarakat nelayan kecil dan tradisional meminta ongkos tradisional lebih tinggi lagi,” tuturnya.
Kendati demikian, dari sisi pemasaran mengalami kenaikan menjadi 78,43 nelayan mengaku ikan terserap di pasar secara keseluruhan. Menurut Riza, hal ini seiring dengan pemulihan ekonomi nasional.
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white