kumparan
20 Okt 2018 13:12 WIB

Ada Objek Wisata Apa Saja di Pegunungan Arfak Papua Barat?

Pegunungan Arfak di Papua yang Terlupakan. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)
Ada banyak hal menarik yang bisa dijumpai di Pegunungan Arfak alias Pegaf di Provinsi Papua Barat. Tempat yang berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu, diapit dua danau yang memukau yaitu Danau Anggi Gida (Danau Perempuan) dan Danau Anggi Giji (Danau Laki-laki) yang dapat berganti-ganti warna.
ADVERTISEMENT
Di Danau Anggi Gida dan Danau Anggi Giji, pengunjung bisa menikmati pemandangan danau dari bukit-bukit seperti Bukit Kombrey dan Bukit Tombrok. Sepanjang mata memandang adalah hamparan biru kehijauan dipermanis dengan alang-alang kekuningan.
Namun tak hanya kedua danau yang seperti berjenis kelamin itu, Bupati Pegunungan Arfak, Yosias Saroi, menyebutkan di Pegaf juga memiliki beragam potensi lain tak kalah mengagumkan. Di antaranya, meliputi ada juga gua yang diklaim terpanjang setelah Prancis yaitu lebih dari 2.800 meter, adanya air terjun, hingga penangkaran kupu-kupu dan burung.
"Terus ada bunga-bunga endemik tidak ada di daerah lain hanya di Pegaf, bunga anggrek hitam. Terus ada burung endemik juga, burung pintar, cendrawasih yang menari-nari di tanah. Terus kita punya flora dan fauna endemik yang tidak ada di daerah lain dan ada birth watching," ujar Yosias ketika dihubungi kumparan, Sabtu (20/10).
ADVERTISEMENT
kumparan (9/10) berkesempatan mengunjungi salah satu birth watching yang berada di kawasan Pegaf yang berbatasan dengan Manokwari. Ialah Kwaw Village, sebuah tempat pemantauan burung (birth watching) yang juga dilengkapi homestay bagi pengunjung bernama Papua Lorikeet.
Lokasi birth watching itu bisa ditempuh sekitar 1,5 jam dari Manokwari ketika perjalanan menuju Pegaf menggunakan mobil sejenis offroad.
Salah seorang warga setempat Hami bercerita di tempatnya ada pemantauan burung pintar yang bisa menata sarangnya sesuai dengan corak warna bahan-bahannya. Namun ingat, atraksi burung pintar itu hanya bisa dilihat pada jam-jam tertentu seperti pagi hari sekitar pukul 06.00 WIT.
“Meskipun kita acak-acak kembali misalnya, burung-burung itu bisa menata kembali dengan warna yang telah dikelompokkan, pejatan dan betina tinggal di sarang utamanya ketika musim kawin,” ucap Hami.
Kondisi masyarakat pegunungan Arfak Papua Barat. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)
Di kawasan birth watching itu terdapat homestay yang muat untuk 10 pengunjung. Semalam dibanderol dengan harga Rp 150.000 per orang.
ADVERTISEMENT
“Kalau mau makan nanti bisa tambah lagi to, dimasakin mama-mama biasanya Rp 150.000 sekali masak,” imbuhnya.
Di sisi lain, masyarakat juga menyediakan jasa pemandu sebesar Rp 220.000 untuk pengunjung berbahasa asing dan Rp 150.000 untuk pengunjung lokal.
“Setidaknya ada 200-300 pengunjung pertahun ramainya biasanya bulan Juni Juli Agustus,” ujarnya.
Hasil dari pendapatan, Hami mengatakan dibagi 50 persen untuk diberikan ke kas untuk keperluan bersama masyarakat di kawasan pengelolaan birth watching itu.
Pegaf bukan saja soal keindahan alamnya, lebih dari itu, Pegaf memiliki kekayaaan yang tak ternilai dalam budaya dan masyarakat adatnya. Di pegaf ditinggali oleh masyarakat adat yang berasal dari 4 sub suku berbeda, yakni Suku Meiyah, Moilei, Hatam, dan Sougb.
ADVERTISEMENT
Mereka menempati kampung yang terlihat di sekitaran Pegaf yaitu seperti Kampung Bamaha, Kampung Sororei, Kampung Kostera, Kampung Iraweri, dan Anggi yang sebagiannya masih menggunakan rumah tradisional. Ialah Rumah kaki seribu yang merupakan rumah tradisional Suku Arfak yang berbahan kayu-kayu lokal di Pegunungan Arfak.
Ketika melewati pemukiman masyarakat adat, pengunjung akan disambut dengan banyak senyum-senyum ramah, lambaian tangan dan sapaan masyarakat sekitar yang kian menambah suasana hangat perjalanan.
Kondisi jalan dan masyarakat pegunungan Arfak Papua Barat. (Foto: Nurul ur Azizah/kumparan)
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Papua Barat, Yosak Wabiya, juga mengatakan keistimewaan masyarakat adat di Pegaf selain dari keramahannya juga bisa dilihat dari kekayaan budaya tari-tariannya. Ia mengingat beberapa tahun lalu, sempat diadakan festival di danau Pegaf yang menghadirkan seni budaya masyarakat setempat.
ADVERTISEMENT
"Ada pengunjung dari luar, lima negara, waktu itu Inggris, Jepang, Perancis, China, Australia. Yang ditampilkan tari-tarian khas daerah. Tari tumbuh tanah dan tari ular. Dibuat kayak ular yang melingkar-melingkar," katanya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan