Airlangga Wanti-wanti Dampak Konflik Global ke Ekonomi RI

5 Agustus 2022 17:09
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto pada pembukaan Panen Raya Nusantara di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (22/6/2022). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto pada pembukaan Panen Raya Nusantara di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (22/6/2022). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
ADVERTISEMENT
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mewanti-wanti dampak konflik geopolitik global terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
ADVERTISEMENT
Menurut Airlangga, kendati pertumbuhan ekonomi kuartal kedua ditopang konsumsi domestik, kondisi ekonomi dunia juga bakal turut berpengaruh.
Badan Pusat Statistik mengumumkan, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,44 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan tumbuh 3,72 persen secara kuartalan (quarter to quarter/qtq).
"Meskipun Indonesia sebagian besar ekonominya masih mengandalkan konsumsi domestik, tentu perekonomian global juga dapat berdampak pada perekonomian Indonesia," ujar Airlangga di Kemenko Bidang Perekonomian, Jumat (5/8).
Paling tidak, kata Airlangga, terdapat beberapa transmisi dampak dari geopolitik global terhadap perekonomian domestik. Pertama, dari pasar keuangan, gejolak geopolitik global dapat mempengaruhi kinerja pasar keuangan Indonesia.
Menurutnya, Sentimen risk-off terhadap pasar emerging market dapat mengakibatkan aliran modal keluar dari Indonesia yang mendorong nilai tukar melemah, suku bunga pasar meningkat, dan kinerja pasar modal menurun.
ADVERTISEMENT
Kedua, dari pasar komoditas, fluktuasi harga komoditas global dapat berdampak pada perekonomian domestik. "Ketika harga komoditas naik signifikan, maka cenderung akan berdampak positif terhadap ekonomi, meskipun dengan catatan kenaikan inflasi juga membayangi," sambungnya.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Terakhir, dari sisi perdagangan, dampak kondisi geopolitik global juga dapat berdampak terhadap kinerja perdagangan, terutama dampak dari trade diversion dari negara-negara yang berkonflik.
Kondisi gedung sekolah kejuruan yang rusak setelah serangan rudal Rusia di kota Kharkiv, Ukraina, Sabtu (30/7/2022). Foto: Sergey Bobok/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi gedung sekolah kejuruan yang rusak setelah serangan rudal Rusia di kota Kharkiv, Ukraina, Sabtu (30/7/2022). Foto: Sergey Bobok/AFP

Airlangga Wanti-wanti Konflik Rusia-Ukraina hingga Amerika-China

Beberapa konflik geopolitik global saat ini, kata Airlangga, seperti perang Rusia-Ukraina. Kemudian yang baru-baru ini terjadi, antara Amerika Serikat dan China akibat kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat ke Taiwan.
"Ini berpotensi mempengaruhi kinerja sisi eksternal Indonesia. Dampak perang Rusia-Ukraina sudah kita rasakan yakni naiknya harga komoditas energi dan pangan dunia, mengingat kedua negara tersebut merupakan penghasil utama energi dan pangan dunia," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Pada konflik China dan Amerika Serikat di Taiwan, jika ini bereskalasi lebih jauh lagi, maka ini akan semakin menambah efek negatif ke perekonomian, mengingat AS dan China merupakan partner dagang utama Indonesia, serta Taiwan merupakan salah satu produsen semikonduktor utama dunia.
"Memang, bisa saja terdapat potensi trade diversion yang menguntungkan Indonesia akibat meningkatnya restriksi perdagangan antara China dan Amerika Serikat, namun ini masih dikaji lebih jauh," tuturnya.
Apalagi jika terjadi perang terbuka antara China dan Taiwan, Airlangga memperkirakan memiliki dampak lebih buruk, di tengah kelangkaan semikonduktor yang terjadi saat ini.
"Ke depan, kami menilai pemerintah harus melakukan upaya ekstra dalam mengurangi ketergantungan bahan baku impor dari luar negeri. Selain itu, untuk mengantisipasi perlambatan dari sisi eksternal, pemerintah juga perlu mengupayakan kebijakan kontrasiklus melalui APBN," pungkas Airlangga.
ADVERTISEMENT