Ancam Pemulihan Ekonomi Nasional, Sri Mulyani Beberkan Situasi Dunia Terkini

29 September 2022 17:03
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara UOB Economic Outlook 2023 di Grand Ballroom Kempinski, Kamis (29/9/2022). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara UOB Economic Outlook 2023 di Grand Ballroom Kempinski, Kamis (29/9/2022). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
ADVERTISEMENT
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani membeberkan, situasi dunia saat ini semakin mengerikan dan berpotensi mengancam pemulihan ekonomi nasional. Untuk itu, Ia berharap agar semua pihak dapat mempersiapkan diri dengan mengantisipasinya lebih dini.
ADVERTISEMENT
Menurut Sri Mulyani, situasi pertama adalah pandemi COVID-19 yang belum sepenuhnya pulih. Pasalnya, masih banyak negara di dunia yang dihadapkan dengan penambahan kasus baru dan terjerat scaring effect pasca pandemi.
"Scar atau dalam hal ini luka di dalam perekonomian yang sangat berbeda sekali dengan scar akibat global financial crisis 2008-2009. Atau kalau untuk Indonesia, kita tambah lagi pengalaman 1997-1998, yaitu financial crisis di Asia Tenggara termasuk di negara kita," ujar Sri Mulyani dalam acara UOB Economic Outlook 2023 di Grand Ballroom Kempinski, Kamis (29/9).
Selanjutnya, kata dia, kedua adalah perubahan iklim. Ia menilai, hal ini sudah dirasakan saat ini, sehingga bukan lagi akan terjadi di masa yang akan datang.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Ini gak bisa climate tunggu sedang konsolidasi fiskal, rakyat lagi kena scaring effect karena pandemi. Kamu ke sana dulu ke kutub utara gak juga, dia touch di mana saja. Kita sudah lihat di semua negara climate change yang tidak ringan," ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Situasi ketiga adalah perang. Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sudah bertemu dengan banyak pimpinan dunia, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengaku tidak dapat memastikan kapan perang akan berakhir.
"Geopolitik tention dari negara-negara yang menguasai ekonomi mayoritas dunia, AS adalah negara terbesar ekonomi, China kedua ekonominya dan Eropa region atau Rusia negara yang tidak kecil. Jadi tensi tinggi perang jelas jadi suatu ketidakpastian," pungkas Sri Mulyani.
Secara keseluruhan, Ia melihat, persoalan ini tidak hanya akan berdampak pasar keuangan, akan tetapi juga menyasar sisi yang dibutuhkan masyarakat umum, seperti energi hingga pangan. Oleh karena itu, langkah yang harus ditempuh adalah penguatan ekonomi dalam negeri baik dari sisi fiskal, moneter, energi dan pangan serta keseluruhan sistem keuangan nasional.
ADVERTISEMENT
"Ketiga ketidakpastian ini berikan perspektif, bahwa risiko ini is not financial only," tandasnya.