Kumparan Logo

Apa Dampak Pelemahan Rupiah ke Pasar Modal?

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Utama BEI Tito Sulistio (Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Utama BEI Tito Sulistio (Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan)

Beberapa pekan terakhir nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal tersebut menjadi sentimen negatif terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Mengutip data perdagangan Reuters, saat ini dolar AS bergerak di Rp 13.733.

Meski demikian, Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan, dampak pelemahan rupiah terhadap dolar AS ke pasar modal tidak terlalu riskan. Bahkan menurut Tito, rupiah tidak sedang melemah. Sebaliknya, saat ini dolar AS memang tengah menguat terhadap mata uang negara-negara di dunia.

"Jadi selama barang (saham-saham di BEI) bagus, ada yang keluar, ada yang masuk (dana di pasar modal). Karena ketika rupiah melemah bagi mereka itu (harga saham) jadi murah," ungkap Tito di Gedung BEI, Kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (15/3).

Tito tidak menampik bahwa pelemahan rupiah membuat sebagian investor asing merasa takut kemudian keluar dari pasar modal Indonesia. Namun di sisi lain, ada investor asing yang justru melihat kondisi ini sebagai kesempatan karena harga-harga saham lagi murah.

Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

"That is not a good issue, ya. Tapi that's what will happen. Selama barangnya (saham-saham) bagus. Awalnya mereka cuma bisa beli yang Rp 13.000 sekarang mereka bisa beli yang Rp 14.000," ujar Tito.

Dengan demikian, menurut Tito, kondisi ini akan membuat jumlah investor asing tetap seimbang. Tito tetap optimistis melemahnya rupiah tidak akan terlalu berdampak signifikan terhadap IHSG. Sebab, investor asing juga tidak dengan mudah dapat memindahkan investasi mereka.

"Duit mereka itu sudah dibagi kok. Indonesia segini, Singapura segini. Mereka sudah bagi nih. Enggak segampang itu mereka pindahin. Mereka meeting 6 bulan sekali. Tapi yang belum masuk lagi nunggu-nunggu. Yang penting emitennya bagus," tutupnya.