Bisnis
·
22 Juli 2021 18:16
·
waktu baca 2 menit

Asosiasi: Setiap Hari, Ada 1-2 Toko Ritel yang Tutup Akibat Pandemi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Asosiasi: Setiap Hari, Ada 1-2 Toko Ritel yang Tutup Akibat Pandemi (40756)
searchPerbesar
Suasana di gerai swalayan Giant di Bandung, Jawa Barat, Kamis (27/5/2021). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO
Pelaku usaha ritel akhirnya buka suara mengenai penutupan gerai selama pandemi COVID-19. Berdasarkan catatan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) lebih dari 1.500 toko ritel yang gulung tikar hingga Penerapan PPKM Darurat.
ADVERTISEMENT
Ketua Aprindo Roy Mandey menyebut sepanjang tahun lalu sekitar 1.300 toko swalayan terpaksa tutup akibat beban operasional yang membengkak. Bahkan, menurut penjelasannya setiap harinya ada 1-2 toko ritel tutup.
“Tahun lalu, sekitar 1.300 toko yang tutup, (tahun ini), tiga bulan pertama 88 toko swalayan yang tutup kalau ditambah dengan 3 bulan lagi berarti sudah ada 200 toko swalayan yang tutup,” ujar Roy saat konferensi pers virtual, Kamis (22/7).
Ia mengakui jika kondisi sektor ritel tahun ini lebih buruk akibat penerapan PPKM Darurat. Ia menggambarkan biaya operasional rata-rata setiap satu minimarket dengan biaya franchise Rp 400 - Rp 500 juta telah menanggung beban yang besar.
Sementara belum lagi soal biaya investasi supermarket Rp 1 miliar - Rp 35 miliar akan menambah beban operasional yang lebih besar, termasuk biaya listrik dan operasional pegawai.
ADVERTISEMENT
“Kita hitung aja kalau kita ambil rata-rata 1.300 (ritel tutup) kali Rp 10 miliar (kerugian) atau kita sebut Rp 5 miliar kali 1.300 sudah berapa angkanya?” tambah Roy.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mencatat potensi kehilangan pendapatan mal dalam sebulan mencapai Rp 5 triliun.
Angka tersebut terbagi dari seluruh anggota APPBI sebanyak 350 unit di seluruh Indonesia. Penerapan PPKM Darurat ini sangat memukul mal di kawasan Jawa-Bali.
“Selama PPKM Darurat ini potensi kehilangan pendapatan pusat perbelanjaan dari seluruh 350 di seluruh ido itu ada potensi pendapatan hilang Rp 5 triliun per bulan,” katanya saat konferensi pers virtual Aprindo, Kamis (22/7).
Alphonzus menambahkan, sebanyak 250 anggotanya berada di Pulau Jawa-Bali. Khusus di kawasan ini saja potensi pendapatan tergerus hingga Rp 3,5 triliun. Asal tahu saja, potensi kerugian ini belum terhitung dengan beban operasional bulanan yang mencekik.
ADVERTISEMENT
“Itu angka pendapatan, tetapi tetap ada pengeluaran tiap bulan jadi akan kehilangan pendapat tapi tambah pengeluaran,” imbuhnya.