Astra International (ASII) Cetak Laba Bersih Rp 15,5 T Semester I 2025

27 Agustus 2025 11:52 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Astra International (ASII) Cetak Laba Bersih Rp 15,5 T Semester I 2025
Penurunan laba bersih perusahaan hingga akhir Juni 2025 disebabkan tekanan pada beberapa lini bisnis, terutama dari sektor pertambangan dan otomotif.
kumparanBISNIS
Presiden Direktur PT Astra International Tbk (ASII), Djony Bunarto Tjondro, saat Public Expose Astra International 2025, Rabu (27/8/2025). Foto: Dok. Tangkapan Layar Zoom
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Direktur PT Astra International Tbk (ASII), Djony Bunarto Tjondro, saat Public Expose Astra International 2025, Rabu (27/8/2025). Foto: Dok. Tangkapan Layar Zoom
ADVERTISEMENT
PT Astra International Tbk (ASII) mencetak laba bersih Rp 15,51 triliun sepanjang semester I 2025. Perolehan ini turun 2 persen dari periode sama tahun 2024 (year on year/yoy) yang sebesar Rp 15,85 triliun.
ADVERTISEMENT
Presiden Direktur Astra International, Djony Bunarto Tjondro, mengatakan penurunan laba bersih perusahaan hingga akhir Juni 2025 disebabkan tekanan pada beberapa lini bisnis, terutama dari sektor pertambangan dan otomotif.
"Kita melihat ada tekanan terhadap beberapa sektor, sehingga kinerja kita juga mengalami sedikit penurunan. Ini disebabkan oleh misalnya harga komoditas yang relatif hanya stabil, tidak terlalu baik. Kemudian pasar mobil nasional juga mengalami penurunan," katanya saat Public Expose Astra International 2025, Rabu (27/8).
Berdasarkan bahan paparan Pubex Astra di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan mengantongi pendapatan sebesar Rp 162,85 triliun pada semester I 2025, naik 2 persen dari semester I 2024 yang sebesar Rp 159,9 triliun.
Hingga akhir Juni 2025, perusahaan mencatatkan nilai aset sebesar Rp 487,79 triliun, naik 3 persen (yoy). Total liabilitas perusahaan juga mengalami kenaikan hingga 5 persen (yoy) menjadi Rp 209,04 triliun, sementara total ekuitas sebesar Rp 278,75 triliun, naik 2 persen.
ADVERTISEMENT
Jika melihat kontribusi laba bersih berdasarkan lini bisnis inti, bisnis otomotif dan mobilitas serta alat berat, pertambangan, dan energi mengalami kontraksi terdalam masing-masing sebesar 15 persen dan 8 persen.
Sementara lini bisnis perusahaan lainnya mengalami kenaikan, seperti jasa keuangan naik 6 persen, agribisnis melesat 40 persen, infrastruktur naik 38 persen, serta bisnis teknologi dan properti naik 22 persen.
Meski begitu, Djony berharap pada sisa tahun ini Astra International bisa meningkatkan, atau paling tidak mempertahankan, kinerja yang sama pada paruh pertama tahun 2025.
"Kami berharap bahwa kami bisa mempertahankan sama dengan semester pertama. Tentunya kami tetap optimis dengan portofolio Astra yang terdiversifikasi, kami sangat optimis bahwa relatif kami bisa mencapai kinerja yang baik dibandingkan dengan peers kami," ujar Djony.
ADVERTISEMENT
Djony tidak bisa menjelaskan proyeksi kinerja perusahaan pada tahun depan, namun dia berharap kondisi perekonomian global dan nasional dapat membaik, baik itu dari tensi perdagangan maupun pemulihan daya beli masyarakat khususnya kelas menengah.
"Sehingga kami harapkan bahwa terjadi pemulihan, misalnya di pasar mobil nasional itu mulai membaik. Itu yang semua kita harapkan. Pada saat ini rasanya terlalu awal, terlalu dini untuk kami memberikan satu guidance yang sifatnya kuantitatif," jelasnya.

Strategi Astra International

Djony memastikan perusahaan tetap konsisten dalam beberapa hal yang bersifat strategis. Pertama, perusahaan akan terus memperkuat lini bisnis inti serta melakukan optimalisasi dari berbagai aspek operasional sehingga bisa memberikan value creation yang lebih baik.
Kedua, perusahaan akan tetap membidik berbagai peluang investasi maupun akuisisi yang berkaitan dengan lini bisnis inti untuk memperkuat rantai pasok atau ekosistem bisnis perusahaan. Perusahaan juga masih akan melihat potensi investasi di sektor bisnis baru yang diperlukan untuk tumbuh lebih jauh di masa mendatang.
ADVERTISEMENT
Selain itu, Djony menyebutkan Astra juga sudah memulai kajian strategis dari sisi komersial dan operasional terhadap seluruh portofolio bisnis. Dia menilai, kompleksitas Astra sebagai sebuah konglomerasi sangat tinggi sehingga kajian ini memerlukan waktu yang tidak singkat.
"Kami akan kaji dengan baik dari sisi portofolio bisnis kami, dari berbagai macam opsi yang ada, bagaimana kami bisa tentunya salah satu fokusnya adalah memberikan satu imbal hasil atau return yang baik bagi seluruh pemegang saham kami secara berkesinambungan," tuturnya.
"Singkatnya adalah termasuk bagaimana kami bisa mengalokasikan modal kami ke investasi-investasi yang baik secara tempat dan cermat sehingga bisa memberikan return yang baik bagi Astra," pungkas Djony.