B20 Indonesia: Link & Match Pendidikan-Industri, Solusi Pekerjaan di Masa Depan

28 Juni 2022 13:56
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Chair of B20 Indonesia Shinta Kamdani.  Foto: Dok. B20
zoom-in-whitePerbesar
Chair of B20 Indonesia Shinta Kamdani. Foto: Dok. B20
ADVERTISEMENT
The Future of Work & Education Taskforce bersama Politeknik Astra menggelar Side Event B20 Indonesia webinar secara hybrid terkait dengan pendidikan dan peluang kerja di masa depan.
ADVERTISEMENT
Mengambil tema Strengthening Link & Match Education and Industry Through Higher Vocational Education as a Solution for Future of Work, webinar ini membahas mengenai hubungan erat antara pendidikan dan industri dalam menjawab tantangan pekerja di masa depan, terutama pendidikan vokasi.
Masih rendahnya kualitas tenaga kerja yang belum mampu merespons perkembangan kebutuhan pasar kerja, menjadi salah satu penyebab produktivitas dan daya saing Indonesia masih tertinggal. Gambaran ini terungkap dari hasil survei IMD World Digital Competitiveness Ranking pada 2021, yang menempatkan Indonesia pada peringkat 37 dunia dari total 64 negara.
Hal serupa juga terungkap dari riset Universitas Indonesia dan Indonesia Labour Organization (ILO) terkait penyerapan lulusan Balai Latihan Kerja (BLK) oleh dunia industri. Ditemukan bahwa penyerapan lulusan BLK hanya mencapai 59,9 persen. Ini menunjukkan, kebutuhan tenaga kerja yang terampil, kreatif, inovatif, adaptif, sekaligus cakap secara digital belum dapat dipenuhi secara optimal oleh BLK.
ADVERTISEMENT
Chair of B20 Indonesia Shinta Kamdani mengatakan, pembahasan mengenai langkah apa yang harus kita lakukan untuk memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, terutama dalam hal pendidikan adalah kunci pekerjaan di masa depan. Menurutnya, saat ini Indonesia perlu mengalihkan fokus dari memperoleh pendidikan untuk tujuan memperoleh gelar menjadi pendidikan yang menghasilkan keterampilan praktis bagi masyarakat dan membuatnya tumbuh di tengah dinamika industri saat ini.
“Pendidikan semacam itu akan memungkinkan masyarakat untuk memikirkan, menciptakan, dan menginovasi tindakan yang diperlukan untuk bergerak menuju pembangunan ekonomi yang lebih sejahtera dan berkelanjutan. Maka penting untuk membangun kembali pendidikan teknis dan kejuruan, karena pekerjaan masa depan berkisar pada pemecahan masalah, yang membutuhkan banyak kompetensi teknis,” jelas Shinta yang juga CEO Sintesa Group ini dalam keterangan tertulis, Selasa (28/6).
ADVERTISEMENT
Shinta juga mengatakan, pendidikan merupakan kunci mendapatkan pekerjaan, kemajuan sosial ekonomi dan keluar dari kemiskinan. B20 Indonesia melihat keterkaitan yang diberikan pendidikan tinggi kejuruan dalam kaitannya dengan lapangan kerja dan pembangunan ekonomi, terutama digitalisasi yang saat ini mengubah semua hal dan menciptakan lanskap kerja baru setelah pandemi.
The Future of Work & Education Taskforce B20 dan KADIN Indonesia berupaya untuk menutup kesenjangan akses pendidikan, terutama untuk kaum perempuan, dengan mendukung kebijakan pemerintah yang mendorong sistem pendidikan dan pelatihan vokasi bersama dengan keterlibatan industri untuk mempersiapkan generasi muda dan tenaga kerja Indonesia yang unggul,” jelas Shinta.
Untuk itu, menurut Shinta, Peraturan Presiden (Perpres) Indonesia. 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan dan Pelatihan Vokasi mendorong pelibatan unsur industri benar-benar ditekankan untuk mendorong peningkatan kualitas kompetensi kaum muda dan menjadi panduan bersama dan seluruh pihak perlu bekerjasama untuk merumuskan strategi efektif menghadapi permasalahan di bidang ini.
Ketua B20 Future of Work and Education Task Force, Hamdhani D. Salim. Foto: Dok. KADIN
zoom-in-whitePerbesar
Ketua B20 Future of Work and Education Task Force, Hamdhani D. Salim. Foto: Dok. KADIN
Chair of The Future of Work & Education Taskforce B20 Indonesia Hamdhani D. Salim mengatakan pihaknya menyoroti mengenai perubahan atau transisi energi hijau dan disrupsi teknologi yang akan mengubah peta pendidikan dan pendidikan di masa depan. Digitalisasi, saat ini menjadi penggerak ekonomi digital global, menjadi salah satu fokus penting yang ingin dikuasai pemerintah dan ini erat kaitannya dengan persoalan pendidikan sekaligus bentuk kerja di masa depan.
ADVERTISEMENT
Problemnya, ada pada ketimpangan infrastruktur digital antara negara maju dan berkembang, termasuk soal pembiayaan, kesiapan perusahaan, literasi digitalnya termasuk soal akses pengetahuan atau pendidikan. Pandemi dan perubahan iklim mendorong digitalisasi semakin cepat dan mengarahkan dunia kerja pada penerapan teknologi serta ekonomi hijau.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
“Untuk itu, dunia pendidikan harus berkesinambungan dan selaras dengan dunia kerja di masa depan, salah satunya melalui peningkatan kualitas sistem pendidikan terutama bidang vokasi dan pelatihan berbasis keahlian seperti pembelajaran digital. Pemerintah dan dunia bisnis harus mengelola transisi ini, melihat implikasinya dan mengatur serta mengelola ulang keterampilan dan keahlian SDM,” jelas Hamdhani yang juga Direktur Astra dan Presiden Direktur Astra Otoparts.
Tiga Rekomendasi Gugus Tugas
Melalui pemikiran ini, lanjut Hamdhani, The Future of Work & Education Taskforce B20 Indonesia merumuskan dan merekomendasikan tiga tema utama. Pertama, penciptaan pekerjaan berkelanjutan yang mendorong penciptaan lapangan kerja pasca pandemi dan selaras dengan sektor pekerjaan yang akan ada di masa depan.
ADVERTISEMENT
Kedua, pendidikan dan keterampilan yang sesuai dengan produktivitas dunia kerja. Tema ini untuk mengatasi kesenjangan keterampilan SDM dengan situasi dunia kerja dan industri serta mendorong pembelajaran seumur hidup agar kita terus meningkatkan kualitas hidup. Ketiga, keterlibatan dan penyertaan. Langkah ini ingin memastikan semua masyarakat terlibat dalam upaya pemulihan dan pertumbuhan secara bersama, tanpa ada diskriminasi pasca pandemi. Hal ini termasuk dalam pentingnya mencari titik temu antara kurikulum instansi pendidikan dengan kebutuhan dunia industri di masa depan.
“Transisi energi hijau dan adopsi teknologi akan menghadirkan pekerjaan baru di masa depan. Pendidikan harus mampu memenuhi kebutuhan akan pekerja dan SDM yang berkualitas dan adaptif dengan pekerjaan baru ini. Kami menekankan program link and match, terutama di bidang vokasi sangat penting untuk menjawab tantangan ini,” jelas Hamdhani.
ADVERTISEMENT
Untuk memastikan keterlibatan industri dalam pengembangan modal manusia ini, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Ketenagakerjaan berkomitmen mendorong pengembangan SDM dalam rangka memenuhi kebutuhan sektor industri. Hal tersebut di antaranya bakal dipasok dari hasil kegiatan pendidikan dan pelatihan vokasi. Namun tentunya pengembangan kompetensi tenaga kerja membutuhkan ekosistem dari semua pemangku kebijakan.
Perlu ada komunikasi intens yang memberikan kesempatan bagi industri untuk dapat memberikan kontribusi untuk pengembangan keterampilan vokasi. Termasuk menyusun standarisasi kompetensi, pelatihan vokasional dan pemagangan yang berkualitas, terutama di sektor-sektor industri yang terus berkembang dan berpotensi menyerap tenaga kerja. Kemenperin dan Kemenaker mendorong pengembangan kurikulum dan modul pembelajaran Industri 4.0.
Kemudian, menyelenggarakan pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi menuju dual sistem pada pendidikan kejuruan dan pendidikan vokasi, serta pengembangan pendidikan SMK dan politeknik yang link and match dengan industri, terutama untuk bidang internet, komputasi awan, digital manufaktur, percetakan 3D, kecerdasan buatan dan keamanan siber, energi hijau.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Presiden Direktur Komatsu Indonesia, Pratjojo Dewo Sridadi mengatakan penyelarasan kurikulum instansi vokasi dengan kebutuhan dunia usaha dunia industri (DUDI) penting dan bermanfaat. Selain itu ia pun menegaskan peran program pemagangan industri yang akan semakin dapat meningkatkan kompetensi sekaligus memuluskan transisi dari dunia pelatihan dan pendidikan ke dunia kerja.
Menanggapi pemenuhan kebutuhan industri yang terus berkembang, Pratjojo juga mengatakan link and match menjadi kunci keberhasilan pendidikan vokasi. Salah satunya melalui sinkronisasi kurikulum dan materi pengajaran di kampus sesuai dengan kebutuhan industri. Praktik dan pembelajaran langsung di dunia industri membuat peserta didik baik mahasiswa memiliki pengalaman dan memahami masalah nyata, sementara perusahaan mendapat manfaat dari perbaikan.
“Melalui program ini, lembaga pendidikan mendapatkan banyak studi kasus nyata, sementara perusahaan mendapatkan pekerja yang tanggap dan paham alur kerja industri, adaptif dengan teknologi. Hal ini juga membuat tujuan masa depan yakni pekerja bisa terus mengembangkan diri dengan belajar sepanjang hayat dan pengalamannya diakui oleh pendidikan formal,” kata Pratjojo.
ADVERTISEMENT
Dalam side events ini, hadir pula Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI Nadiem Makarim yang diwakili oleh Direktur Pendidikan Tinggi Vokasi Beny Bandanadjaja; Sekjen Kemenaker yang juga merupakan Chair Employment Working Group G20 Indonesia Anwar Sanusi; Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kemenperin Doddy Rahadi; Presiden EURO-PROF Urs Keller; Koordinator Nasional ESD–Komisi Indonesia untuk UNESCO Ananto Kusuma Seta dan Direktur Politeknik Astra Tony H. Silalahi.