Bisnis
·
24 Februari 2021 11:54

Bank Indonesia Waspadai Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS ke Aliran Modal RI

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Bank Indonesia Waspadai Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS ke Aliran Modal RI (32543)
Ilustrasi Bank Indonesia Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Bank Indonesia (BI) mewaspadai dampak kenaikan imbal hasil atau yield obligasi Amerika Serikat (US Treasury) terhadap aliran modal asing di Tanah Air. Imbal hasil yang terus meningkat tersebut dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan portofolio di seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data Bloomberg, imbal hasil US Treasury dengan tenor sepuluh tahun hari ini mencapai 1,343 persen. Bahkan imbal hasil tersebut sempat mencapai level tertinggi 1,352 persen di bulan ini, jauh meningkat dibandingkan awal 2021 yang ada di kisaran 0,92 persen.
Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Yoga Affandi mengatakan, kenaikan imbal hasil obligasi AS tersebut sedikit mengganggu pasar keuangan. Adapun kenaikan imbal hasil itu sejalan dengan optimisme perbaikan ekonomi di Negeri Paman Sam.
“Ada sedikit di financial market sesuatu yang agak mengganggu, yaitu kenaikan yield US Treasury sudah mulai naik, seiring dengan optimisme perbaikan ekonomi di AS, yang diperkirakan yield akan terus meningkat, ini yang bisa ganggu keseimbangan portofolio,” ujar Yoga dalam webinar Infobank “Harmonisasi Kebijakan Moneter dan Fiskal,” Rabu (24/2).
Bank Indonesia Waspadai Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS ke Aliran Modal RI (32544)
Direktur BI Yoga Affandi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Namun berdasarkan pengalaman yang ada, kata Yoga, kenaikan imbal hasil dinilai sebagai sesuatu yang wajar. Dia pun berharap kenaikannya tidak terlalu drastis di tahun ini.
ADVERTISEMENT
“Tapi tentu sebagai kewaspadaan, kita juga akan melihat perkembangan di AS ini apakah bersifat temporer atau permanen, atau digerakkan oleh nominal yield-nya atau real yield. Ini akan memberikan feedback yang berbeda responsnya,” jelasnya.
Namun demikian, BI mulai lega karena adanya pernyataan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, yang memastikan kebijakan bank sentral AS akan tetap akomodatif dalam beberapa waktu ke depan. Sehingga hal ini juga diharapkan akan tetap mendorong stabilitas nilai tukar rupiah.
“Tapi kami dengar Ketua The Fed Jerome Powell kebijakan akan tetap akomodatif terus berlangsung, sehingga ini melegakan financial emerging market. Ini memberikan window bagi stabilitas nilai tukar di emerging market, termasuk Indonesia,” tambahnya.