kumparan
Bisnis29 Februari 2020 6:37

Berita Populer: Jokowi Sewa Pesawat Kepresidenan hingga Perawat Gaji Rp 18 Juta

Konten Redaksi kumparan
Pesawat baru Kepresidenan RI Boeing 777
Pesawat baru Kepresidenan RI, Boeing 777. Foto: Dok. Istimewa
Sebuah pesawat milik Garuda Indonesia disiapkan sebagai pesawat kepresidenan baru. Berita ini menjadi yang terpopuler di kanal ekonomi bisnis sepanjang Jumat (29/2).
ADVERTISEMENT
Kemudian ada berita mengenai Menteri Kereta Api Bangladesh Nurul Islam Sujon yang ingin memesan kembali kereta api buatan Indonesia.
Pekerja asal Indonesia yang menjadi perawat lansia di Jepang dengan gaji Rp 18 juta per bulan juga menyedot perhatian banyak orang.
Berikut rangkuman berita-berita populer dari kumparan, Sabtu (29/2):

Jokowi Sewa Pesawat Kepresidenan

Sebuah pesawat Boeing 777-300 ER milik maskapai Garuda Indonesia, disiapkan sebagai pesawat kepresidenan baru. Pesawat tersebut disewa, karena sebelumnya pemerintah sudah punya pesawat kepresidenan jenis Boeing Business Jet atau BBJ 737-800.
Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyatakan, pertimbangan menggunakan pesawat sewa dari Garuda Indonesia, karena biayanya dinilai lebih murah jika digunakan untuk perjalanan jarak jauh.
Pesawat Boeing 777-300 ER itu, pertama kali akan digunakan Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk menghadiri KTT ASEAN-US Special Summit pada Maret 2020.
ADVERTISEMENT
"Salah satu alasannya adalah masalah efisiensi. Jika menggunakan pesawat BBJ 737, butuh transit hingga 3 kali untuk sampai ke Amerika Serikat. Kalau pesawat yang ini (Boeing 777-300 ER) paling transit sekali aja," kata Pramono di Istana Negara, Jakarta, Jumat (28/2).
Pramono Anung
Pramono Anung. Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan
Selain itu, Pramono menjelaskan setiap transit harus mengisi bahan bakar. Sehingga jika dihitung biayanya jauh lebih murah menggunakan pesawat kepresidenan sewa dari Garuda Indonesia.
"Udah lebih mahal, capek, kemudian yang diangkut juga terbatas," kata Pramono.
Pramono menambahkan penyewaan pesawat kepresidenan hanya untuk perjalanan jauh saja. Sementara untuk perjalanan jarak dekat, tetap akan menggunakan pesawat kepresidenan lama.

Menteri Bangladesh Pesan 1.050 Gerbong Kereta Buatan INKA

Menteri Kereta Api Bangladesh Nurul Islam Sujon bertandang ke kantor Menteri BUMN Erick Thohir. Dia ingin kembali memesan kereta api buatan Indonesia.
ADVERTISEMENT
Erick mengatakan dalam pertemuan singkat tersebut, Nurul memesan 1.050 gerbong kereta api produksi PT INKA (Persero). Tender untuk pengadaan kereta bun disertakan.
"Sekarang kita diberi kesempatan lagi untuk coba ikut tender 1.050 gerbong. Nilainya ratusan juta dollar nilainya," kata dia di kantornya, Jakarta, Jumat (28/2).
Tak hanya INKA, proyek ekspor gerbong kereta api ini juga melibatkan PT LEN Industri (Persero) dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Kedua perusahaan membantu urusan infrastruktur operator dan persinyalan.
Erick Thohir dan Nurul Islam Sujon
Menteri Kereta Api Bangladesh Nurul Islam Sujon (kanan) dan Menteri BUMN Erick Thohir di Kementerian BUMN Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Erick mengatakan rencana tender ekspor ini bukan yang pertama buat BUMN. Sebab Bangladesh sudah mengimpor kereta api sejak 15 tahun lalu dengan nilai investasi mencapai USD 181,6 juta.
Kegiatan ekspor produk kereta api buatan Indonesia ini bakal terus dilebarkan. Tujuannya agar perusahaan tak hanya jago main kandang.
ADVERTISEMENT

Kisah Perawat Lansia di Jepang, Dapat Gaji hingga Rp 18 Juta Sebulan

Merawat lansia di Jepang menjadi pekerjaan yang sempat dijalani Nani, seorang pekerja yang pernah ikut program Indonesia-Jepang Economic Partnership Agreement (IJEPA) sejak Juli 2008. Ia berangkat ke Jepang tahun 2014 dan kembali ke Indonesia tahun 2019.
Nani mengaku merasa nyaman selama bekerja merawat lansia yang usianya rata-rata mulai 70 tahun ke atas, atau yang sudah mulai pikun. Kenyamanan itu juga didapatkan dari teman-teman seniornya dari Jepang yang bisa membimbing dengan baik.
“Kalau tempat aku ada pantinya tapi semi rumah sakit karena disitu ada perawat, ada juga dokternya,” kata Nani saat ditemui di Midplaza, Jakarta, Jumat (28/2).
Nani, seorang pekerja ikut program Indonesia-Japan
Nani, seorang pekerja yang pernah ikut program Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) Foto: Moh Fajri/kumparan
Selain suasananya menyenangkan, Nani mengaku penghasilan yang didapatkan selama merawat lansia cukup besar. Penghasilannya mencapai 150 ribu yen setiap bulan. Jumlah tersebut belum termasuk bonusnya.
ADVERTISEMENT
“Misal (kemarin) gaji dasar 150 ribu yen itu belum termasuk bonus dan lain-lain. Gaji pokoknya segitu berarti sekitar misal kurs hari ini 124 jadi Rp 18 juta sekian di luar yang lainnya,” ujar Nani.
“Tapi tergantung tempat kerjanya juga. Ada yang lebih tinggi juga, apalagi kalau sudah lulus ujian,” tambahnya.
Dengan pendapatan mencapai Rp 18 juta lebih, Nani menjelaskan angka itu tidak bisa langsung disebut gaji tinggi di Jepang. Sebab, biaya hidup di negeri sakura juga mahal.
Nani tidak merincikan nominal pengeluarannya dari pendapatan tersebut. Namun, ia memastikan gaji tersebut masih bisa untuk ditabung.
“Gaji beda jauh (dengan Jakarta). Jadi memang lebih besar di Jepang tapi pengeluarannya juga lebih banyak. Biaya tempat tinggal, biaya makan, keseharian gitu,” terang Nani.
ADVERTISEMENT
Pengalamannya menjadi perawat lansia di Jepang juga tidak kalah menantang. Ia mengungkapkan lansia yang dirawatnya memang cukup rewel. Hanya saja, ia menyadari hal tersebut karena mereka sudah pikun.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan