kumparan
13 Oktober 2018 16:48

BI: Dolar AS Bisa Turun di Bawah Rp 15.000

Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo, Forum Merdeka Barat, IMF, Kementrian Keuangan
Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo saat menghadiri Forum Merdeka Barat 9 terkait IMF 2018 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (17/9). (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
Bank Indonesia (BI) menyatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memungkinkan untuk bisa kembali menguat di bawah Rp 15.000. Hal ini bergantung pada seberapa besar tekanan global tersebut.
ADVERTISEMENT
"Ya, tergantung pasarnya. Kalau dorongan pada penguatannya (rupiah) besar, bisa saja terjadi (di bawah Rp 15.000 per dolar AS)," ujar Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Nusa Dua, Bali, Sabtu (13/10).
Dia pun menilai, saat ini gap antara imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia bertenor sepuluh tahun dengan US Treasury masih cukup atraktif. Dody pun optimistis jika dana asing akan semakin banyak yang masuk ke portofolio Indonesia.
"Perbedaan sekitar 525 bps dengan yield sepuluh tahun kita dengan yield US Treasury itu sangat menarik untuk masuk, khususnya dari sisi portofolio. Kalau itu kembali besar, saya rasa ke arah penguatan akan bisa terjadi," jelasnya.
Diskusi kebijakan moneter di IMF-WBG 2018
Ravi Menon (Direktur Pelaksana Otoritas Moneter Singapura), Nor Shamsiah Mohd Yunus (Gubernur Bank Negara Malaysia), Perry Warjiyo (Gubernur Bank Indonesia), dan Veerathai Santiprabhob (Gubernur Bank Thailand) dalam diskusi kebijakan moneter di IMF-WBG 2018. (Foto: Helmi Afandi/kumparan)
Berdasarkan data perdagangan Reuters sore ini, dolar AS mencapai Rp 15.200, melemah dibandingkan pagi tadi yang mencapai Rp 15.230 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde sebelumnya mengatakan, depresiasi rupiah ini bisa mendorong investasi asing untuk masuk.
Adapun depresiasi nilai tukar ini tak hanya dialami rupiah, tapi juga negara lainnya. Lagarde menilai, depresiasi rupiah masih lebih baik dibandingkan negara lainnya.
"Termasuk dengan Australia, Selandia Baru, dengan nilai serupa. Cadangan devisa juga ada peningkatan, utang dari rekam jejaknya bagus," kata Lagarde.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan