kumparan
18 Mar 2019 18:29 WIB

BI: Pendapatan Devisa Pariwisata Harus Digenjot untuk Kurangi Defisit

Turis berfoto di Candi Borobudur. Foto: Iqbal/kumparan
Pemerintah dan Bank Indonesia terus mendorong penerimaan devisa dari sektor pariwisata. Tahun ini pemerintah dan BI menargetkan penerimaan devisa dari sektor pariwisata bisa mencapai USD 17,6 miliar.
ADVERTISEMENT
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, pariwisata berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Dengan penerimaan devisa pariwisata yang tinggi, pemerintah bisa mengurangi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).
"Bagi BI kalau ada penambahan devisa itu berarti mengurangi defisit transaksi berjalan, menambah supply valas, dan menstabilkan nilai rupiah," kata Perry di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (18/3).
Menurut Perry, pariwisata saat ini menjadi salah satu sektor penyumbang devisa terbesar setelah kelapa sawit. Penerimaan devisa pariwisata juga telah menyalip sektor unggulan seperti batu bara.
"Jelas devisa dari pariwisata sangat penting bagi ekonomi kita. Dengan penerimaan devisa USD 16,1 miliar (tahun lalu), tahun ini insyaallah USD 17,6 miliar bisa menjadi penyumbang devisa kedua setelah kelapa sawit. Sekarang menyalip batu bara," ujarnya.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat konferensi pers bersama anggota Dewan Gubernur BI, Kamis (21/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Selain itu, Pery mengatakan pariwisata juga mampu menggerakkan roda perekonomian karena cakupan sektor ini cukup luas. Sehingga sektor tersebut mampu menyerap banyak tenaga kerja.
ADVERTISEMENT
Dalam satu kawasan pariwisata saja misalnya, bisa mendorong industri lain seperti penerbangan, perhotelan, restoran hingga UMKM. Dengan banyak tenaga kerja yang terserap, pendapatan masyarakat meningkat ekonomi secara nasional juga terkerek.
"Maka itu, pengembangan digital ekonomi akan semakin memberi nilai tambah, tidak hanya pada devisa, tapi juga ekonomi rakyat kita," katanya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan