kumparan
Bisnis5 Februari 2020 13:24

Bos BI Beberkan Alasan Investasi ke Indonesia Begitu Menarik

Konten Redaksi kumparan
Perry Warjiyo, Komite Stabilitas Sistem Keuangan
Gubernur BI Perry Warjiyo saat saat Konferensi Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, hadir dalam Mandiri Investment Forum 2020. Di hadapan para investor, bos BI itu mengungkap beberapa alasan berinvestasi di Indonesia begitu menarik.
ADVERTISEMENT
Khususnya terkait dukungan pemerintah atas regulasi yang menjamin keamanan bagi para investor.
"Be confident untuk investasi di Indonesia. Karena jaminannya sudah diberikan oleh Presiden, Ibu Sri Mulyani, Pak Airlangga, hingga saya," ujar Perry di Hotel Fairmont Jakarta, Rabu (5/2).
Lebih lanjut, ia menjelaskan beberapa hal yang menjadi alasan kenapa para investor tersebut mesti berinvestasi di Indonesia. Mulai dari adanya kebijakan moneter, renovasi struktural, hingga inovasi ekonomi digital.
Let me just give you 3 reason kenapa Indonesia pilihan tepat untuk investasi. Pertama sinergi yang kuat melalui kebijakan monetary, fiscal. Kedua reformasi struktural, ketiga inovasi. Tiga hal ini adalah alasan Indonesia bisa bertahan,” papar Perry.
Mandiri Investment Forum
Foto bersama para pembicara di acara Mandiri Investment Forum di Jakarta, Rabu (5/2). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Selain itu, menurutnya ekonomi Indonesia saat ini juga mengalami pertumbuhan yang bisa mendukung iklim investasi. Pertumbuhan ini, kata Ferry, berasal dari sektor konsumsi serta investasi di bidang infrastruktur.
ADVERTISEMENT
Short term economy, growth economy diprediksi mencapai 5 persen, tahun ini kami yakin ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,3 bahkan 5,5. Jadi apa saja sumber pertumbuhannya? Pertama konsumsi, spending. Kedua, investasi di sektor infrastruktur,” jelasnya.
Dengan adanya investasi di bidang infrastruktur ini, ia yakin ekonomi Indonesia tumbuh melebihi 5,3 persen. Indonesia mampu tumbuh di atas 5 persen di saat banyak negara terdampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Ia juga mengeklaim, inflasi Indonesia berada di angka terendah tahun ini. Begitu pula dengan angka pertumbuhan kredit, ia optimistis bisa mencapai angka 10 persen.
“Tahun lalu angka defisit (defisit transaksi berjalan) mencapai 2,7 persen. Tahun ini kami prediksi menurun 2,5 persen. Kami prediksi kredit tumbuh 10 persen karena dibantu kebijakan yang akomodatif,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, sistem perbankan yang diterapkan saat ini menurutnya begitu memudahkan investor untuk berinvestasi. Salah satunya berupa potongan besaran uang muka sehingga hal itu bisa mendorong investasi di sektor otomotif dan properti.
“Kami juga mendorong perbankan menerapkan kebijakan akomodatif. Last year, kami melonggarkan persyaratan DP untuk properti dan otomotif, termasuk proyek-proyek yang ramah lingkungan. Potongan tersebut mencapai 10 persen,” pungkas Perry.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan