kumparan
3 Desember 2019 9:38

Buwas Ungkap Penyebab Bulog Punya Utang Rp 28 Triliun

Dirut Perum Bulog Budi Waseso
Dirut Perum Bulog Budi Waseso. Foto: Moh Fajri/kumparan
Perum Bulog mempunyai utang yang sudah mencapai Rp Rp 28 triliun. Angkanya terus membengkak dibandingkan tahun 2017 lalu yang sebesar Rp 13,2 triliun.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, Dirut Perum Bulog Budi Waseso mengatakan mau tidak mau pihaknya harus tetap berutang. Namun, Buwas, sapaan akrab Budi Waseso, tidak mau membeberkan bank mana saja yang menjadi tempat Bulog berutang.
“Bulog tidak bisa dihindari dengan utang karena memang Bulog membeli beras baik itu CBP (cadangan beras pemerintah) maupun untuk komersial kita pinjam uang dari bank. Bunganya komersial. Jadi ada bunganya, kan bunga berjalan,” kata Buwas di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Selasa (3/12).
beras bulog
Pekerja mengangkat beras di Gudang Bulog. Foto: ANTARA FOTO/Yusran Uccang
Buwas mengatakan, sebenarnya untuk komersial tidak ada masalah yang dihadapi karena proses penjualan berjalan lancar. Ia mengungkapkan kendala itu ada di Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Stok beras CBP tak tersalurkan karena pemerintah sudah mengganti program Beras Sejahtera (Rastra) menjadi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
ADVERTISEMENT
“Yang masalah adalah CBP. Kan kita beli dengan uang pinjaman tadi bunga berjalan. Sebenarnya enggak ada masalah beras Bulog CBP enggak digunakan, selama ini emang enggak digunakan untuk rastra karena berubah jadi BPNT,” ujar Buwas.
“Itu (BPNT) pada akhirnya enggak menggunakan berasnya Bulog karena masyarakat dibolehkan memilih beras beli di pasar, bebas. Ini berdampak pada stok yang ada di Bulog yang tidak bergeser,” tambahnya.
Beras, Bulog
Pekerja mengangkat karung beras Bulog untuk dipindahkan ke dalam mobil box di Gudang Bulog Kelapa Gading, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Stok yang tidak tersalurkan tersebut harus diikuti Bulog dengan konsekuensi bunga yang tetap berjalan. Untuk itu, Buwas meminta agar ada perbaikan dalam pengelolaan ke depannya. Sehingga kejadian itu tidak berulang. Ia menuturkan, salah satu langkah yang bisa diambil adalah memperbesar porsi beras komersial yang saat ini baru 20 persen.
ADVERTISEMENT
“Nanti ke depan kita harus paling tidak 50 persen untuk komersial sehingga kita bisa menutupi bunga utang dan kita bisa menyicil bayar utang. Kalau 50 persen komersial, 50 CBP jadi kan enggak banyak CBP-nya. Kita ada kegiatan lain ditopang CBP tergantung bagaimana perkembangan ke depan regulasi yang ada. Semoga regulasi ke depan ada perubahan, pada prinsipnya Bulog siap,” ungkap Buwas.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan