kumparan
11 Sep 2019 19:14 WIB

Cerita Habibie Dibujuk Pulang ke RI oleh Bos Pertama Pertamina

Presiden Indonesia B.J. Habibie saat wawancara dengan wartawan di kantor Presiden Bina Graha di Jakarta 11 Juli 1998. Foto: AFP/KEMAL JUFR
Presiden Indonesia ke-3 BJ Habibie meninggal sore hari ini pada usia 83 tahun. Selain sebagai negarawan, Habibie juga memiliki karier panjang di bidang teknologi.
ADVERTISEMENT
Habibie muda bersekolah dan bekerja di Jerman. Saat balik ke tanah air, ia terlibat dalam pembangunan industri strategis seperti pesawat, kereta, dan perkapalan.
Di balik kontribusinya, BJ Habibie saat masih sehat pernah bercerita tentang awal mula balik dari Jerman dan mengabdi ke Indonesia.
Ada sosok Ibnu Sutowo, pendiri dan mantan bos PT Pertamina (Persero) di balik kepulangannya ke Indonesia. Dihimpun dari berbagai sumber, BJ Habibie balik ke Indonesia tahun 1974 dari Jerman.
Habibie sendiri mulai tinggal dan berkuliah di Jerman dari tahun 1955 hingga menjadi seorang profesional yang sukses di bidang enjiniring pesawat, kereta, dan kapal di sana.
Bermula, saat dirinya sedang sibuk bekerja di akhir tahun 1973, Habibie muda memperoleh telepon dari Dubes RI di Jerman saat itu, karena ada seorang bernama Ibnu Sutowo dengan pesawat khusus ingin bertemu dirinya di salah satu kota di Dusseldorf, Jerman.
ADVERTISEMENT
"Tahun 1973 dapat telepon dari duta besar di Jerman. Waktu, dia bilang datang seorang dengan pesawat pribadi, Ibnu Sutowo. Saya bilang tidak kenal sama Ibnu Sutowo, dia (dubes) bilang masak tidak tahu. Dia yang menguasai perekonomian, dia ciptakan Pertamina. Terus akhirnya, saya diperintahkan untuk bertemu di Dusseldorf (salah satu kota di Jerman) hari jumat jam 8 pagi," tutur Habibie di depan mahasiswa dan dosen pada acara Kuliah umum Wirausaha Muda Mandiri di JCC Senayan Jakarta, Kamis (17/1/2013).
Saat mendapat informasi itu, ia mengaku tak mengenal sosok sang pendiri Pertamina itu. Namun akhirnya ia memutuskan terbang menemui Ibnu Sutowo.
"Pagi jam 8. Saya ketok kamar president suite Hotel Hilton Pak Sutowo, terus terang saya belum pernah menginap di sana. Itu cuma ada 1 kamar (president suite). Saya enggak pernah karena berhemat. Saya mau masuk, ada seorang bilang tunggu di luar. Terus Ibnu Sutowo keluar Dia tidak bilang apa-apa, tidak ramah, saya malah dimaki-maki," kata Habibie menggambarkan suasana saat itu.
Mantan presiden Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie menunjuk di sebelah istrinya Hasri Ainun di parlemen sebelum pelantikan Presiden Indonesia dan Wakil Presiden di parlemen pada 20 Oktober 2009. Foto: AFP/ADEK BERRY
Ia pada awalnya sempat kaget saat dibentak Ibnu Sutowo namun lebih memilih untuk terdiam. Tetapi, apa yang dikatakan Ibnu Sutowo ada benarnya. Sehingga dari sanalah ia memutuskan untuk terbang dan kembali ke Indonesia.
ADVERTISEMENT
Tepatnya di awal tahun 1974, ia kembali ke Indonesia dan langsung bertemu Ibnu Sutowo. Saat pertemuan itu, suasana berubah 180 derajat, dari yang cuek menjadi sosok yang ramah.
Bahkan, Habibie terkaget ternyata Ibnu Sutowo hanya diperintahkan oleh Presiden Soeharto untuk membujuknya pulang ke Indonesia, kemudian mengembangkan industri dan lembaga strategis hingga akhirnya lahir seperti PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, PT INKA, Batan, hingga BPPT.
"Saya ketemu pak Ibnu, di rumahnya. Dia bilang tugas saya selesai. Kemudian saya ketemu pak Harto, saya sudah kenal dia sebelumnya (Pak Harto). Dia berdiri, dia bilang selamat datang. Dari situ (tahun 1974) mulai merencanakan industri strategis," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan