China dan Eropa Krisis Energi, Ada Persoalan Besar di Baliknya

8 Oktober 2021 14:21
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
China dan Eropa Krisis Energi, Ada Persoalan Besar di Baliknya (68965)
searchPerbesar
Ilustrasi batu bara. Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO
China dan negara-negara di kawasan Eropa saat ini sedang menghadapi krisis energi. Permintaan energi meningkat seiring dengan bangkitnya ekonomi yang tahun lalu dihantam pandemi COVID-19. Harga batu bara dan gas bumi meroket akibat tingginya permintaan China dan Eropa.
ADVERTISEMENT
Mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini mengungkapkan, krisis energi itu terjadi bukan semata karena kekurangan kemampuan pasokan dunia. Jumlah produsen batu bara maupun gas masih banyak, begitu juga dengan cadangannya.
Penyebab utama krisis energi ini, menurut Rudi, adalah transisi energi yang terlalu gegabah tanpa perhitungan matang. Perusahaan-perusahaan raksasa energi fosil berbondong-bondong lari ke energi baru terbarukan. Investasi untuk energi fosil dipangkas.
Pada awal pandemi COVID-19, permintaan energi memang anjlok. Harga energi fosil, terutama minyak bumi, terjun bebas. Kini kebutuhan kembali meningkat karena industri-industri kembali beraktivitas. Pasokan dari energi baru terbarukan ternyata belum mampu mengimbangi lonjakan kebutuhan industri.
"Industri sudah mulai melakukan kegiatan, namun masih di bawah permintaan sebelum COVID-19, sehingga tidak bisa dikaitkan secara mutlak penyebab krisis energi adalah mulai bangkitnya industri. Begitu gegap gempitanya jargon Energy Transition seolah besok akan terjadi penggantian energi fosil dengan EBT, padahal secara dunia tidak kurang dari 70 persen masih dipasok dari energi fosil, sementara di Indonesia masih pada kisaran 85 persen," papar Rudi dalam keterangan yang diterima kumparan, Jumat (8/10).
China dan Eropa Krisis Energi, Ada Persoalan Besar di Baliknya (68966)
searchPerbesar
Mantan Kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini. Foto: ANTARA FOTO
Rudi menilai, pengembangan energi baru terbarukan masih perlu persiapan panjang. Energi fosil masih sangat dibutuhkan saat ini. Pasokan energi fosil telah dikurangi, padahal energi baru terbarukan belum dapat menutupinya.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Bahwa EBT perlu dikembangkan dan diberi jalan yang lebar untuk mensubstitusi kelangkaan energi fosil di masa datang sangat lah benar dan bijak, tetapi bukan besok, karena dengan berbagai faktor baik teknis, ekonomis, dan infrastruktur serta teknologi penerima energi, masih perlu jalan panjang untuk mampu mengganti energi fosil yang 70 persen, bahkan hanya bisa turun sampai 50 persen pun sudah merupakan prestasi yang luar biasa," tuturnya.
Menurut Rudi, China dan Eropa terlalu percaya diri dalam mengambil langkah pengurangan pasokan energi fosil untuk beralih ke energi baru terbarukan. Dampaknya terasa saat ini. Ketika ekonomi sedikit saja menggeliat, langsung terjadi perebutan pasokan energi.
Harga berbagai komoditas energi fosil pun melambung tinggi. Saat ini harga batu bara sudah di atas USD 200 per metrik ton alias tertinggi sepanjang sejarah. Harga gas bumi meroket sampai USD 50 per MMBTU, lima kali lipat dari harga normal. Harga minyak juga sekarang sudah ke kisaran USD 70 per barel.
ADVERTISEMENT
"Jargon Energy Transition yang dikumandangkan oleh negara penghasil teknologi EBT seperti Eropa dan juga China, telah menyeret pada kondisi over confidence," Rudi mengungkapkan.
China dan Eropa Krisis Energi, Ada Persoalan Besar di Baliknya (68967)
searchPerbesar
Ilustrasi PLTS. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Masalah kekurangan pasokan energi diperparah dengan akan tibanya musim dingin dalam 3-5 bulan ke depan, sehingga bila tidak ada solusi, Eropa dan China akan menurunkan kegiatan industrinya demi memenuhi kebutuhan pemanas di rumah-rumah penduduk. Produk industri akan naik harganya karena pembayaran untuk membeli energi juga naik.
Dari kejadian ini, Rudi menyimpulkan bahwa kebijakan energi harus direncanakan dengan baik untuk jangka panjang. Energi fosil tidak bisa disingkirkan begitu saja.
"Cukup menjadi pelajaran para pengambil keputusan dalam bidang energi, bahwa tidak bisa gegabah dan tergopoh-gopoh dalam membuat langkah-langkah strategis jangka panjang. Kalau mau disebut krisis, maka saat ini adalah krisis pemikiran dalam memandang energi secara menyeluruh, terlalu mendikotomikan jenis satu energi dengan energi lainnya, harusnya berjalan bersama," tutupnya.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020