kumparan
16 Juli 2019 16:51

Defisit APBN 2019 Diprediksi Melebar hingga 1,93 Persen dari PDB

Menteri Keuangan Sri Mulyani sampaikan tanggapan soal APBN 2018
Menteri Keuangan Sri Mulyani sampaikan tanggapan soal APBN 2018. Foto: Nicha Muslimawati/kumparan
Pemerintah memproyeksi defisit APBN 2019 mencapai Rp 310,8 triliun atau 1,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini melebar dibandingkan target dalam APBN 2019 yang sebesar Rp 296 triliun atau 1,84 persen dari PDB.
ADVERTISEMENT
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, defisit yang melebar tersebut lantaran jumlah penerimaan negara yang lebih rendah dari belanja negara. Tak hanya itu, perlambatan perekonomian global akibat eskalasi perang dagang masih terasa di tahun ini, dan menekan penerimaan negara.
"Dalam prognosa kami, semester II defisit APBN kami perkirakan 1,09 persen dari PDB. Dan outlook kami selama tahun ini 1,93 persen dari PDB," ujar Sri Mulyani di Ruang Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Jakarta, Selasa (16/7).
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Rapat Paripurna, DPR
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan tanggapan pemerintah atas pandangan fraksi-fraksi pada Rapat Paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/7/2019). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Secara rinci, penerimaan negara selama tahun ini diprediksi hanya 93,8 persen dari target APBN 2019 atau hanya sebesar Rp 2.030,7 triliun. Di semester I ini, realisasi penerimaan negara mencapai Rp 898,7 triliun dan di semester II diproyeksi Rp 1.131,9 triliun.
ADVERTISEMENT
Sementara untuk belanja negara, selama tahun ini diperkirakan Rp 2.341,5 triliun atau 95,1 persen dari target. Adapun realisasi belanja negara di semester I 2019 sebesar Rp 1.034,5 triliun dan proyeksi semester II yang sebesar Rp 1.307 triliun.
Meski defisit melebar, Sri Mulyani memastikan, uang negara masih akan terjaga. Sebab Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) masih ada sebesar Rp 204 triliun hingga semester I 2019. Secara rinci, SILPA hingga akhir Desember tahun lalu Rp 170 triliun dan semester I sebesar Rp 34 triliun.
"Pada LKPP 2018 akhir Desember lalu ada Rp 170 triliun, semester I Rp 34 triliun, total sekitar Rp 200 triliun itu SILPA cash kita yang ada di BI. Kami meyakinkan supaya masyarakat juga tahu, karena kemarin ada hoax yang sampaikan kita enggak punya uang, itu salah sangat besar," tambahnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan