kumparan
4 Desember 2019 8:30

Deretan Masalah Bulog yang Harus Dituntaskan Buwas

Direktur Utama Bulog,  Budi Waseso
Direktur Utama Bulog, Budi Waseso Foto: Garin Gustavian/ kumparan
Permasalahan Perum Bulog tidak hanya mengamankan harga stok beras di dalam negeri terjaga. Menjaga kualitas beras yang tersedia juga salah satu tugas yang harus dipikul Dirut Perum Bulog Budi Waseso beserta jajarannya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, masih banyak pekerjaan rumah dari Perum Bulog yang harus diselesaikan, termasuk membayar utang yang jumlahnya tidak sedikit. Apa saja masalah yang saat ini harus dihadapi dan diselesaikan Budi Waseso di Perum Bulog?
1. Utang Menggunung
Perum Bulog mempunyai utang yang sudah mencapai Rp 28 triliun. Angkanya terus membengkak dibandingkan tahun 2017 lalu yang sebesar Rp 13,2 triliun.
Meski begitu, Buwas, sapaan akrab Budi Waseso, mengatakan mau tidak mau pihaknya harus tetap berutang. Namun, Buwas tidak mau membeberkan bank mana saja yang menjadi tempat Bulog berutang.
“Bulog tidak bisa dihindari dengan utang karena memang Bulog membeli beras baik itu CBP (cadangan beras pemerintah) maupun untuk komersial kita pinjam uang dari bank. Bunganya komersial. Jadi ada bunganya, kan bunga berjalan,” kata Buwas di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Selasa (3/12).
ADVERTISEMENT
Buwas mengatakan, sebenarnya untuk komersial tidak ada masalah yang dihadapi karena proses penjualan berjalan lancar. Ia mengungkapkan kendala itu ada di Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Stok beras CBP tak tersalurkan karena pemerintah sudah mengganti program Beras Sejahtera (Rastra) menjadi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
Stok yang tidak tersalurkan tersebut harus diikuti Bulog dengan konsekuensi bunga yang tetap berjalan. Untuk itu, Buwas meminta agar ada perbaikan dalam pengelolaan ke depannya. Sehingga kejadian itu tidak berulang. Ia menuturkan, salah satu langkah yang bisa diambil adalah memperbesar porsi beras komersial yang saat ini baru 20 persen.
2. Siasat Buwas Selamatkan Bulog dari Jerat Utang
Buwas sudah mulai ancang-ancang memperbaiki kinerja perusahaan. Buwas mengaku sedang fokus membesarkan bisnis komersial Bulog. Diharapkan keuntungan dari bisnis komersial bisa menutupi kerugian dari Public Service Obligation (PSO). Cara ini ditempuh untuk mengurangi utang Bulog yang menumpuk hingga Rp 28 triliun.
ADVERTISEMENT
Ia juga sudah menyiapkan sejumlah langkah dengan menggandeng e-commerce seperti Shopee dan membuat panganandotcom. Menurutnya masyarakat banyak yang terbantu dengan adanya langkah itu.
“Saya kerja sama dengan ritel-ritel Indonesia menjual beras produk Bulog yang medium. Jadi beras medium Bulog nanti ada di ritel-ritel yang selama ini ritel hanya menjual beras premium. Kami juga kerja sama dengan Grabkios,” ujar Buwas.
Bulog Luncurkan Supermall Pangan
Dirut Perum Bulog Budi Waseso saat peluncuran PangananDotCom, di gudang Bulog, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (26/11). Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan
3. Merugi Walau Sudah Disuntik PMN
Perum Bulog menjadi Badan Usaha Milik Negara yang masih merugi walau sudah disuntik Penyertaan Modal Negara (PMN) oleh pemerintah. Kerugian yang dialami Perum Bulog itu diungkapkan langsung oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani saat rapat bersama dengan Komisi XI DPR.
Melihat kenyataan tersebut, apa tanggapan dari Dirut Perum Bulog Budi Waseso?
ADVERTISEMENT
“Ini kan soal mekanisme. Jadi berangkat karena kita tidak ada lagi rastra (beras sejahtera), jadi kita akan bawa kerugian karena beban bunga. Sebenarnya Bulog itu tidak rugi, untung. Kalau kita bicara komersial,” kata Budi Waseso di Kantor Perum Bulog, Jakarta, Selasa (3/12).
Buwas mengatakan, selama ini pihaknya sudah berupaya agar Bulog tidak merugi. Namun, perubahan kebijakan pemerintah membuat Bulog merugi. Buwas menyarankan agar pengadaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) bisa menggunakan APBN. Sehingga Bulog bisa merawat, menyimpan, sampai menyalurkan beras secara maksimal sesuai arahan pemerintah.
4. Jaga Kualitas Beras
Perum Bulog berencana memusnahkan beras sebanyak 20.000 ton. Nilai beras Bulog yang dimusnahkan itu mencapai Rp 160 miliar dengan asumsi harga rata-rata pembelian di petani Rp 8.000 per kilogram.
Rencana Pemusnahan Beras Bulog Yang Terancam Busuk
Suasana di Gudang Bulog, Jakarta, Selasa (3/12). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Budi Waseso menegaskan, pihaknya tidak bisa sembarangan dalam pemusnahan beras. Menurutnya harus ada rekomendasi termasuk dari Kementerian Pertanian terkait beras yang dianggap sudah mengalami penurunan mutu.
ADVERTISEMENT
“Tidak berarti secara keseluruhan langsung dibuang, tidak. Sesuai nilai tafsiran laboratorium, BPOM sama Menteri Pertanian,” kata Buwas.
Buwas menjelaskan, kualitas 20.000 ton beras Bulog yang mengalami penurunan mutu itu tidak sama kondisinya. Ada beberapa opsi yang akan diambil mulai dari menjual dengan harga murah, pengolahan kembali, sampai dijadikan etanol.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan