Bisnis
·
7 Maret 2021 11:14

Di Balik Kampanye Benci Produk Asing yang Digaungkan Jokowi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Di Balik Kampanye Benci Produk Asing yang Digaungkan Jokowi (20384)
Presiden Joko Widodo menyampaikan apresiasi atas peran Ombudsman Republik Indonesia pada Senin, 8 Februari 2021. Foto: BPMI Setpres
Seruan Presiden Jokowi untuk membenci produk asing, menjadi polemik. Pernyataan Jokowi itu hingga kini masih menuai pro kontra, bahkan diberitakan media asing.
ADVERTISEMENT
Jokowi melontarkan ajakan tersebut dalam konteks agar produk lokal lebih dicintai. Selain itu, kampanye itu ia gaungkan lantaran adanya praktik perdagangan tak sehat oleh produk China terhadap UMKM lokal.
Bahkan produk dari China masih membanjiri Tanah Air. Berikut fakta-faktanya:
UMKM Hijab Ditikung Produk China
Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, turut buka suara terkait ajakan presiden. Menurutnya, Jokowi meradang karena adanya permainan harga produk-produk dari luar negeri, yang membunuh UMKM lokal.
Mendag Lutfi bercerita pada tahun 2018 ada industri hijab yang mempunyai kemampuan penjualan luar biasa, industri ini mampu mempekerjakan 34 ribu pekerja dengan gaji mencapai USD 650.000 per tahunnya. UMKM yang sempat meroket itu, rupanya kemudian mati lantaran praktik persaingan tidak sehat dari produk asing.
ADVERTISEMENT
"Ketika industrinya maju tahun 2018, tersadap artificial intelligence yang digunakan perusahaan digital asing. Kemudian disedot informasinya. Setelah itu dibuatlah industrinya di China, kemudian diimpor barangnya ke Indonesia, mereka membayar USD 44 ribu sebagai bea masuk, tetapi kemudian industri UMKM hijab itu hancur," ujar Mendag Lutfi dalam raker Kemendag, Kamis (4/3).

Jokowi Tak Mau UMKM Jadi Korban Perdagangan Tak Adil

Sehari berselang, Jokowi pun mengamini alasan yang diutarakan Mendag. Ajakan itu ia gaungkan sebagai bentuk perlawanan terhadap praktik ketidakadilan dalam dunia perdagangan.
Gempuran produk asing atau produk impor harus diwaspadai. Sebab sering ditemukan produk asing harganya jauh lebih murah, sehingga mematikan UMKM domestik.
Kendati begitu, Jokowi menegaskan tak menutup diri terhadap semua akses produk asing.
Di Balik Kampanye Benci Produk Asing yang Digaungkan Jokowi (20385)
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan untuk Menyambut Tahun 2021, Kamis (31/12). Foto: Youtube/Sekretariat Presiden
Bisakah RI Lepas dari Impor?
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), memang ada penurunan nilai impor dalam dua tahun terakhir. Pada Januari-Desember 2020, nilai impor mencapai USD 141.568,8 juta. Di periode yang sama tahun lalu, nilai impor ada di angka USD 171.257,7 juta.
Dalam data 5 tahun terakhir, nilai impor terbesar terjadi pada tahun 2018. Kala itu, nilai impor mencapai USD 188.711,30 juta.
Ekonom Universitas Indonesia yang juga Direktur Eksekutif Next Policy, Fithra Faisal, menilai Indonesia butuh waktu panjang buat lepas dari impor.
"Bisa saja kita substitusi impor, tapi itu kan butuh waktu," kata Fithra saat dihubungi Jumat (5/3).
Impor Hijab dari China Cs Rp 18,5 Miliar
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor kerudung atau hijab nilainya cukup fantastis sejak 2018. Pada periode 2018-2020, total angka impor mencapai Rp 18,5 miliar.
ADVERTISEMENT
Selama 2018, total impor kerudung mencapai USD 670.842 atau senilai Rp 9,38 miliar (kurs Rp 14.400). Pasar impor terbesar berasal dari China, yaitu senilai USD 311.281. Disusul India USD 24.353 dan Malaysia USD 7.775.