Digitalisasi Perbankan, Penggunaan Mobile Banking Bank Mandiri Capai 50 Persen
ยทwaktu baca 2 menit

Digitalisasi perbankan di Indonesia terus berkembang. Terlebih di masa pandemi COVID-19 yang membuat transaksi digital kian melesat.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan perbankan di Indonesia saat ini sudah berevolusi, termasuk Bank Mandiri. Jika melihat tren mobile banking Mandiri dalam 17 tahun terakhir melesat ke angka 50 persen penggunaanya.
"Di dalam Bank Mandiri sendiri penggunaannya (ATM) beberapa tahun lalu masih 57,4 persen, sekarang 46 persen, bahkan kemudian turun kembali di bawah itu. Kalau kita lihat franchise apalagi. Saya yakin bapak ibu semua sudah jarang ke franchise. Dari 42,4 persen di 2004 terus sekarang hanya 4 persen," ujar Andry dalam diskusi Infobank, Selasa (3/8).
Transaksi secara digital, kata dia, berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Berdasarkan data SEA di 2020, ekonomi digital Indonesia diprediksi tumbuh hingga tumbuh USD 124 miliar.
Di 2020 sendiri pertumbuhan ekonomi digital Indonesia senilai USD 44 miliar.
"Kalau kita ambil data dari SEA di 2020 pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara kuenya mencapai USD 100 billion. Indonesia pertumbuhannya mencapai USD 124 billion diperkirakan pada 2025, di Indonesia sendiri," jelasnya.
Pertumbuhan ekonomi digital ini didorong oleh e-commerce, transportasi dan kuliner. Juga online travel dan media online.
"Sekalipun pandemi berakhir, perilaku adopsi keuangan digital akan tumbuh. Jadi akselerasi bukan hanya blessing in disguise karena adanya pandemi," kata dia.
Transaksi digital juga sudah masuk pada pembayaran kebutuhan sehari-hari. Mulai dari pembayaran air minum, pembayaran zakat, pembayaran pajak kendaraan hingga pembayaran pajak dan lainnya.
Berdasarkan big data milik Bank Mandiri, transaksi digital atau dengan internet banking tertinggi terjadi di top up e-wallet yang naik hingga 9,5 kali dan pembayaran Pegadaian naik 8,7 kali di 2021.
"Dalam transaksi sepanjang 2020-2021 sepanjang pandemi yang simpel sudah masuk ke dalam pelayanan digital di perbankan sendiri. Misalnya pembayaran samsat, itu naik 4,4 kali. Bayar pajak dari kecil di 2020 langsung melonjak ke 3,7 kali. Pembayaran air minum naik 2,1 kali, dan pembayaran zakat naik 1,9 kali," tuturnya.
Namun masih ada tantangan dalam digitalisasi transaksi perbankan. Tantangan terbesar yakni masih banyaknya nasabah yang merasa tak perlu digitalisasi. Juga banyak nasabah yang memilih untuk melakukan transaksi dengan uang tunai.
