Dolar Tergeser, BI Sebut Pelaku Usaha Lebih Untung Transaksi Mata Uang Lokal

6 Agustus 2021 11:54
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Dolar Tergeser, BI Sebut Pelaku Usaha Lebih Untung Transaksi Mata Uang Lokal (49763)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi uang dolar. Foto: Aditia Noviansyah
Bank Indonesia kembali melakukan Local Currency Settlement (LCS), kali ini dengan China. Sebelum China, BI sudah lebih dulu bersepakat dengan Malaysia, Thailand, dan Jepang dalam penggunaan mata uang lokal masing-masing negara. Jadi tak lagi melakukan konversi transaksi antar negara dengan Dolar AS.
ADVERTISEMENT
Kepala Departemen Internasional Doddy Zulverdi menjelaskan, skema LCS ini bukan hanya menguntungkan makroekonomi di pasar valas, tapi juga menguntungkan para pelaku usaha dalam menjalankan bisnisnya.
"Selain tadi ada manfaat makro membuat pasar valas kita lebih berimbang sehingga sensitivitas atau volatilitas rupiah diharapkan jadi lebih berkurang. Ada beberapa hal yang spesifik yang bisa dimanfaatkan untuk pelaku usaha," ujar Doddy dalam diskusi virtual BI, Jumat (6/8).
Pertama, kata dia, dalam cakupan LCS Malaysia dan Jepang, para pelaku usaha bisa menggunakan rupiah, ringgit, dan yen untuk transaksi perdagangan, investasi, income transfer, hingga remitansi. Sehingga tak lagi harus mengkonversi kegiatan ekonomi di atas ke dalam Dolar AS.
Kemudian, biaya konversi rupiah ke mata yang lokal menjadi lebih efisien karena menggunakan kuotasi harga secara langsung dan bisa dilakukan transaksi langsung. Hal ini mengurangi biaya konversi yang sebelumnya harus melewati konversi ke Dolar AS.
ADVERTISEMENT
"Artinya harga yang harus dibayarkan oleh pelaku usaha jika mereka bertransaksi menjadi lebih murah," tuturnya.
Dengan LCS, pelaku usaha juga memiliki alternatif pembiayaan ekspor dalam mata uang lokal. Juga alternatif instrumen hedging dalam mata uang lokal sehingga exposure bisa dibatasi dengan biaya yang lebih efisien.
Manfaat LCS bagi pelaku usaha juga memperluas akses pelaku usaha ke mata uang selain Dolar AS sehingga bisa mendiversifikasi mata uang yang digunakan dalam penyelesaian transaksi. LCS juga bisa dimanfaatkan untuk alternatif tambahan instrumen investasi selain Dolar AS.
"Karena bukan hanya digunakan untuk perdagangan, tapi kelebihan dana dalam mata uang lokal dalam pelaku usaha bisa juga digunakan untuk investasi di instrumen lain. Misalkan di instrumen SBN di Malaysia dan lainnya, ini bisa kita lakukan," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Donny Hutabarat menjelaskan LCS dalam kaitannya dengan instrumen investasi, hanya bisa dilakukan dari dana yang diperoleh sebagai hasil perdagangan atau investasi langsung.
"Terkait investasi dalam konteks LCS sebenarnya dana yang diperoleh dari perdagangan dan investasi langsung merupakan profitnya sebelum digunakan lagi itu bisa diinvestasikan di pasar keuangan. Beli SBN atau aset lain, tapi harus dari hasil perdagangan," jelasnya.
Dia menambahkan, keuntungan LCS bagi para pekerja migran Indonesia. Dengan adanya skema LCS, maka para pekerja migran bisa melakukan aktivitas terkait keuangan dengan lebih fleksibel.
"Jadi pekerja migran Indonesia di Malaysia bisa buka rekening Rupiah atau Malaysia Ringgit di Malaysia dan bisa ditransfer ke Indonesia, diterima di indonesia Rupiah atau Malaysia Ringgit. Jadi dia bisa memilih," terangnya.
Dolar Tergeser, BI Sebut Pelaku Usaha Lebih Untung Transaksi Mata Uang Lokal (49764)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi uang dolar. Foto: Aditia Noviansyah
Resiko dari Penggunaan Mata Uang Lokal
ADVERTISEMENT
Meski memiliki banyak keuntungan, tapi tetap ada risiko dari skema LCS. Kepala Departemen Internasional Doddy Zulverdi menjelaskan, risiko nilai tukar tetap tak bisa dihindarkan dalam pelaksanaan LCS.
"Semua transaksi apakah itu dengan mata uang Dolar, apa pun, tentu ada risiko termasuk risiko nilai tukar. Artinya bukan kemudian kalau kita biasanya gunakan Dolar sekarang gunakan Ringgit Malaysia atau dengan Yen otomatis risiko nilai tukar berkurang atau hilang ya tentu saja tidak, tetap ada. Cuma lebih terdistribusi saja kalau sebelumnya kita terekspos hanya dengan Dolar," jelasnya.
Namun risiko nilai tukar ini diantisipasi dengan melakukan pengembangan instrumen hedging. Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Donny Hutabarat menjelaskan risiko pada LCS memang lebih rendah.
ADVERTISEMENT
"Dengan transaksi LCS ini risikonya akan lebih rendah. Kenapa? karena pertama, volatilitas kita terhadap negara mitra ini kan lebih rendah dibanding USD karena kita berdagang, dan fundamental dan arahnya itu. Oleh karenanya, kalau kita juga melakukan hedging tentu nanti biayanya akan lebih rendah," ujarnya.
Kesepakatan LCS ini juga tak memiliki masa kedaluwarsa. Hanya saja akan dilakukan evaluasi berkala. Sehingga keuntungan dua negara bisa lebih maksimal.
"Enggak ada masa berlakunya, cuma ini di-review dalam rangka untuk meningkatkan efektivitas. Jadi apalagi yang mungkin bisa inisiatif baru yang bisa meningkatkan efektivitasnya terutama di pengembangan pasar keuangannya," tutupnya.