kumparan
6 Desember 2019 7:43

Drama Ari Askhara: Dari Penyelundupan Harley hingga Berujung Pemecatan

Brompton dan Harley Davidson, selundupan Garuda
Petugas merapikan kembali barang selundupan Harley Davidson yang ditemukan di pesawat baru Garuda Indonesia. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Menteri BUMN Erick Thohir mencopot Direktur Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara atau Ari Askhara. Keputusan tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan komite audit dan laporan Dewan Komisaris Garuda Indonesia terkait kasus penyelundupan motor Harley Davidson.
ADVERTISEMENT
Erick memastikan suku cadang Harley Davidson selundupan merupakan milik petinggi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk berinisial AA.
AA merupakan nama inisial Direktur Utama Garuda I Gusti Ngurah Askhara atau Ari Askhara. Dia juga termasuk dalam daftar penumpang VIP Airbus A330-900 Neo.
kumparan sudah merangkum drama Ari Askhara yang terbukti menyelundupkan motor Harley Davidson di Airbus A330-900 Neo. Berikut ini faktanya seperti dikutip Jumat (6/12).
Sri Mulyani, Erick Thohi, Brompton, Harley Davidson
Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri BUMN Erick Thohir saat konferensi pers penyelundupan di pesawat Garuda Indonesia. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Erick Thohir Pastikan Harley Selundupan Milik Dirut Garuda
Menteri BUMN Erick Thohir memastikan suku cadang Harley Davidson selundupan merupakan milik Ari Askhara dengan inisial yang dia sebut AA.
"Motor Harley Davidson dimiliki Saudara AA," ujar Erick di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (5/12).
Awalnya berdasarkan keterangan Ditjen Bea Cukai sebelumnya, penumpang yang membawa barang selundupan suku cadang Harley Davidson memiliki inisial SAW dan sepeda Brompton berinisial LS. Keduanya merupakan penumpang VIP yang berada dalam pesawat tersebut.
ADVERTISEMENT
Dari daftar penumpang atau manifes yang diterima kumparan, penumpang berinisial SAW yang paling mendekati adalah Satyo Adi Swandhono. Sedangkan yang berinisial LS yang paling mendekati adalah Lokadita Semidesa Brahmana.
Namun, setelah ditelusuri Kemenkeu dan Kementerian BUMN, Harley itu milik orang nomor satu di Garuda.
Brompton dan Harley Davidson, selundupan Garuda
Sepeda Brompton dan Harley Davidson yang diselundupkan melalui pesawat baru Garuda Indoensia. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Harley Davidson Dikemas Rapi dan Diselundupkan di Pesawat Airbus A330-900 Neo
Barang selundupan tersebut dibawa melalui pesawat baru Garuda Indonesia Airbus A330-900 Neo. Pesawat itu tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta atau Bandara Soetta, Tangerang, pada 17 November 2019.
Adapun barang selundupan itu dimasukkan ke dalam 18 kotak, rinciannya 15 kotak merupakan suku cadang Harley dan sisanya merupakan sepeda premium Brompton. Setelah dirakit, ternyata 15 kotak suku cadang itu merupakan satu unit Harley Davidson bekas.
ADVERTISEMENT
Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan menduga penyelundupan dilakukan dengan terencana.
"Moge (motor gede) ini adalah Moge bekas yang dari sisi aturan jelas jelas tidak boleh di impor dan saya kira penumpang di pesawat itu tentunya kita anggap orang yang paham mengenai masalah bagaimana mendatangkan barang-barang dari luar ke dalam teritori Indonesia," jelas Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi usai jumpa pers di Kemenkeu, Jakarta, Kamis (5/12).
Sri Mulyani, Erick Thohi, Brompton, Harley Davidson
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers penyelundupan di pesawat Garuda Indonesia. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Negara Rugi Rp 1,5 Miliar Akibat Harley dan Brompton Selundupan Garuda
Potensi kerugian negara akibat kasus penyelundupan motor Harley Davidson dan sepeda Brompton menggunakan pesawat Garuda Indonesia diperkirakan capai Rp 1,5 miliar.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, potensi kerugian negara akibat barang selundupan tersebut karena tak membayar pajak bea masuk.
ADVERTISEMENT
"Total kerugian negara, potensi kalau tidak melakukan deklarasi Rp 532 juta sampai Rp1,5 miliar," ucapnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (5/12).
Dirut PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Ari Askhara
Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Ari Askhara. Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Ari Askhara Akhirnya Dipecat
Menteri BUMN Erick Thohir akhirnya mencopot Direktur Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara atau Ari Askhara. Keputusan tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan komite audit dan laporan Dewan Komisaris Garuda Indonesia terkait kasus penyelundupan motor Harley Davidson.
"Saya memberhentikan Direktur Utama Garuda. Tapi tidak sampai di situ saja, kita akan terus melihat lagi oknum-oknum yang tersangkut," kata Erick Thohir dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Kamis (5/12).
Mantan Presiden Inter milan ini lebih sedih lagi lantaran modus penyelundupan dilakukan oleh segelintir orang-orang di internal perusahaan.
ADVERTISEMENT
"Ini menyedihkan. Ini proses secara menyeluruh dalam sebuah BUMN, bukan individu. Ini tentu Ibu (Sri Mulyani) sangat sedih," tegasnya saat konferensi pers di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Kamis (5/12).
Brompton dan Harley Davidson, selundupan Garuda
Konfrensi pers penyelundupan sepeda Brompton dan Harley Davidson yang diselundupkan melalui pesawat baru Garuda Indoensia. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Ari Askhara Juga Bisa Dijerat Tindak Pidana
Erick juga bilang sangkaan terhadap Ari Askhara sangat berat. Tidak hanya dipecat dari jabatannya sekarang, Ari juga terancam jerat tindak pidana.
"Apalagi ditulis kerugian negara, ini jadi faktor yang tidak hanya perdata tapi pidana, ini memberatkan," tegas Erick di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (5/12).
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendorong Direktorat Jenderal Bea Cukai untuk melakukan pemeriksaan dan penindakan atas kasus ini hingga tuntas. Cara ini dilakukan untuk memberikan efek jera bagi para pelaku penyelundupan.
ADVERTISEMENT
"Saya memerintahkan Bea Cukai untuk tingkatkan pengawasan. Saya minta Bea Cukai untuk selesaikan seluruh kasus ini dalam sisi pemeriksaan, penindakan, sesuai peraturan perundangan berlaku," jelas Sri Mulyani.
Mengutip Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2006 Nomor 93 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661), telah diatur sanksi pidana penyelundupan sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 102, Pasal 102 A dan Pasal 102 B Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006, khususnya tindak pidana penyelundupan di bidang impor dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah); dan tindak pidana penyelundupan di bidang ekspor dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah); dan tindak pidana penyelundupan yang mengakibatkan terganggunya sendi-sendi perekonomian negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan