Ekonom Ungkap Tantangan yang Bakal Pengaruhi Ekonomi RI di Kuartal III 2022

5 Agustus 2022 18:36
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Minggu (1/5). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Minggu (1/5). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
ADVERTISEMENT
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengungkapkan tantangan yang kemungkinan bakal mempengaruhi ekonomi Indonesia di kuartal III 2022. Meski sebagian besar masih mengandalkan konsumsi domestik, ia mengingatkan kondisi perekonomian global juga dapat berdampak pada Indonesia.
ADVERTISEMENT
"Paling tidak terdapat beberapa transmisi dampak dari geopolitik global terhadap perekonomian domestik," kata Josua kepada kumparan, Jumat (5/8).
Pertama, gejolak geopolitik global dapat mempengaruhi kinerja pasar keuangan Indonesia. Sentimen risk-off terhadap pasar emerging market dapat mengakibatkan aliran modal keluar dari Indonesia yang mendorong nilai tukar melemah, suku bunga pasar meningkat, dan kinerja pasar modal menurun.
Kedua, dari pasar komoditas. Fluktuasi harga komoditas global dapat berdampak pada perekonomian domestik. Ketika harga komoditas naik signifikan, maka cenderung akan berdampak positif terhadap ekonomi. Namun ada catatan kenaikan inflasi juga membayangi.
"Terakhir, dari sisi perdagangan, dampak kondisi geopolitik global juga dapat berdampak terhadap kinerja perdagangan, terutama dampak dari trade diversion dari negara-negara yang berkonflik," ungkap Josua.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Josua menjelaskan beberapa konflik geopolitik global saat ini, seperti perang Rusia-Ukraina, dan yang baru-baru ini terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China akibat kunjungan Ketua DPR AS ke Taiwan, berpotensi mempengaruhi kinerja sisi eksternal Indonesia.
"Dampak perang Rusia-Ukraina sudah kita rasakan yakni naiknya harga komoditas energi dan pangan dunia, mengingat kedua negara tersebut merupakan penghasil utama energi dan pangan dunia," tandas dia.
Josua menilai, jika konflik China dan AS di Taiwan, bereskalasi lebih jauh lagi, maka ini akan menambah efek negatif ke perekonomian Indonesia. Mengingat, AS dan China merupakan partner dagang utama Indonesia, serta Taiwan juga merupakan salah satu produsen semikonduktor utama dunia.
"Memang, bisa saja terdapat potensi trade diversion yang menguntungkan Indonesia akibat meningkatnya restriksi perdagangan antara China dan Amerika Serikat, namun ini masih dikaji lebih jauh," ujar Josua.
Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Minggu (1/5). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Minggu (1/5). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
"Apalagi jika terjadi perang terbuka antara China dan Taiwan, hal ini justru kami perkirakan memiliki dampak lebih buruk, di tengah kelangkaan semikonduktor yang terjadi saat ini," tambahnya.
ADVERTISEMENT
Josua mengimbau pemerintah untuk melakukan upaya ekstra dalam mengurangi kebergantungan bahan baku impor dari luar negeri. Selain itu, untuk mengantisipasi perlambatan dari sisi eksternal, pemerintah juga perlu mengupayakan kebijakan kontrasiklus melalui APBN agar ekonomi tetap terjaga.