kumparan
17 Sep 2019 12:02 WIB

Ekspor Sawit Indonesia ke China Naik 46,7 Persen, ke India Turun 19,8

Pekerja menurunkan tandan buah segar kelapa sawit untuk diolah menjadi Crude Palm Oil (CPO). Foto: ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan, kinerja ekspor minyak sawit dan produk turunannya (di luar biodiesel dan oleochemical) hingga Juli 2019 cukup memuaskan. Total ekspor sampai dengan Juli lalu mencapai 17,76 juta ton. Volume ekspor minyak sawit dan produk turunannya tersebut mengalami kenaikan sekitar 16 persen dari bulan Juni.
ADVERTISEMENT
“Sementara di periode yang sama 2018 (year on year/yoy) tercatat 16,97 juta ton atau mengalami kenaikan 4,7 persen,” ujar Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono dalam keterangan tertulis, Selasa (17/9).
Joko Supriyono mengungkapkan, ekspor sawit ke China mengalami kenaikan 46,7 persen (yoy), disusul negara-negara di Afrika sebesar 20,11 persen (yoy) dan beberapa negara Asia, khususnya Jepang dan Malaysia.
Afrika sebagai negara tujuan ekspor baru yang sedang digarap Indonesia menunjukkan kinerja cukup baik.
“Ini adalah keberhasilan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam melakukan promosi ke negara-negara Afrika,” kata Joko.
Ilustrasi Kelapa Sawit Foto: Pixabay
Sedangkan penurunan ekspor masih terjadi di India (-19,86 persen yoy), Amerika Serikat (-14,3 persen yoy), serta Pakistan dan Bangladesh. Penurunan ekspor ke India masih dikarenakan pengenaan tarif impor yang tinggi (54 persen) untuk produk olahan dan 40 persen untuk produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
ADVERTISEMENT
Namun kabar baik diperoleh dari India, karena negara ini akan menurunkan tarif impor untuk produk olahan sawit Indonesia menjadi 45 persen sehingga sama dengan tarif yang dikenakan kepada produk olahan sawit Malaysia.
“Tentu ini karena negosiasi yang terus menerus dilakukan oleh Kemendag dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) kepada Pemerintah India,” ujar Joko.
Pasar ekspor masih tumbuh 1,5 persen (yoy) walaupun diwarnai penuh masalah dan berbagai kampanye negatif. Masalah paling serius, kata Joko, yakni rencana Uni Eropa untuk mengurangi impor sawit mulai 2021. Terhadap rencana ini, pemerintah Indonesia terus melakukan lobi disertai ancaman retaliasi beberapa produk impor dari Uni Eropa.
Di sisi lain, perolehan devisa ekspor mengalami penurunan. Sampai dengan Juli, devisa ekspor dari produk sawit (di luar biodiesel dan oleochemical) sebesar USD 9,8 miliar.
ADVERTISEMENT
“Angka ini turun 18 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, yaitu sebesar USD 11,9 miliar,” kata Joko Supriyono.
Harga CPO di pasar internasional mulai menunjukkan pergerakan naik. Joko Supriyono berharap, tren kenaikan ini terus menunjukkan ke arah yang positif hingga akhir tahun.
“Sehingga sawit tetap mampu berkontribusi positif terhadap neraca perdagangan Indonesia,” katanya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan