Bisnis
·
9 November 2020 18:38

Fintech Menjamur, Pemerintah Optimistis Inklusi Keuangan Bisa 90 Persen di 2024

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Fintech Menjamur, Pemerintah Optimistis Inklusi Keuangan Bisa 90 Persen di 2024 (36736)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers tentang UU Cipta Kerja di Kemenko Perekonomian, Rabu (7/10). Foto: Kemenko Perekonomian
Financial technology atau fintech memiliki potensi besar dalam mempercepat inklusi keuangan. Melalui penggunaan fintech, masyarakat dapat mengakses layanan keuangan dengan aman, nyaman, dan berbiaya terjangkau.
ADVERTISEMENT
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengamini bahwa fintech akan terus memainkan peranan penting dalam inklusi keuangan yang kini baru mencapai 76 persen.
Dengan adanya fintech, Airlangga optimistis tingkat inklusi keuangan bisa diakselerasi dan bisa mencapai target pemerintah mencapai 90 persen pada 2024.
"Saya percaya kita bisa memenuhi target keuangan yang inklusif di tahun 2024 sebesar 90 persen," ujar Airlangga dalam Peluncuran dan Diskusi Publik Indonesia Fintech Society (IFSoc), Senin (9/11).
Dia menyebutkan sektor fintech merupakan salah satu yang paling dinamis, kompetitif, dan menjadi bagian penting dari ekonomi digital.
Pada tahun 2019, laporan Google Temasek dan Bain & Co menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia adalah yang terbesar dengan pertumbuhan tercepat di ASEAN.
ADVERTISEMENT
Menurut Airlangga industri fintech diperkirakan bernilai sekitar USD 40 miliar dan memiliki pertumbuhan tahunan yang cukup signifikan.
Bahkan di tahun 2025, fintech diperkirakan bernilai lebih dari USD 100 miliar. Hal ini didorong pembayaran digital, e-commerce, layanan transportasi online, distribusi barang, dan lain-lain.
Fintech Menjamur, Pemerintah Optimistis Inklusi Keuangan Bisa 90 Persen di 2024 (36737)
Ilustrasi Fintech. Foto: Shutter Stock
Sepanjang tahun 2020, Indonesia juga terus mengejar Singapura dalam jumlah fintech. Menurut Airlangga, Singapura memiliki 39 persen dari seluruh jumlah fintech di ASEAN, diikuti Indonesia 20 persen, Malaysia 15 persen, dan Thailand 10 persen.
Kemudian dalam hal penyaluran pinjaman, akumulasi penyaluran peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia mencapai lebih dari Rp 100 triliun hingga September 2020. Angka ini naik sebesar 113,05 persen secara year-on-year (yoy).
Dengan perkembangan tersebut, Airlangga pun mengajak semua pihak untuk terus mendukung pertumbuhan fintech di Indonesia. Menurutnya momentum tersebut membutuhkan kolaborasi dari semua pihak.
ADVERTISEMENT
"Digitalisasi layanan keuangan akan menjadi isu krusial dan menjadi tantangan bersama, termasuk soal kebutuhan infrastruktur yang lebih kuat. Kolaborasi pemerintah, akademisi, media massa, sektor bisnis, dan masyarakat diperlukan dalam hal inisiatif sektor keuangan dan teknologi finansial," ujarnya.