Gaikindo: Semua Kendaraan Produksi di Atas Tahun 2000 Cocok dengan Etanol 10%
7 November 2025 19:41 WIB
·
waktu baca 2 menit
Gaikindo: Semua Kendaraan Produksi di Atas Tahun 2000 Cocok dengan Etanol 10%
Gaikindo menyebut seluruh kendaraan bermotor yang diproduksi setelah tahun 2000 cocok dengan BBM campuran etanol 10 persen (E10).kumparanBISNIS

ADVERTISEMENT
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebut seluruh kendaraan bermotor yang diproduksi setelah tahun 2000 cocok dengan BBM campuran etanol 10 persen (E10).
ADVERTISEMENT
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, mengatakan industri sangat mendukung penggunaan bakar bahan nabati alias biofuel, tidak hanya bioetanol namun juga biodiesel yang sudah diimplementasikan. Saat ini, PT Pertamina (Persero) sudah menjajakan produk Pertamax Green 95 dengan kadar etanol 5 persen (E5).
"Sebetulnya kendaraan yang sudah diproduksi semenjak tahun 2000, itu rata-rata sudah compatible dengan etanol E10," ungkapnya saat Diskusi Publik PUSKEP UI, Jumat (7/11).
Kukuh menjelaskan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sudah membuat peta jalan transisi energi pada industri otomotif, yakni pergeseran dari Low Cost Green Car (LCGC) hingga flexy engine.
Saat ini, minat masyarakat sudah mulai merambah kepada hybrid electric vehicles (HEV), kemudian plug-in hybrid electric vehicles (PHEV), hingga battery electric vehicle (BEV). Selanjutnya, pengembangan akan menuju kendaraan flexy engine yang bisa menerima 100 persen biofuel (B100/E100).
ADVERTISEMENT
"Kita juga akan dikenalkan flexy engine yang bisa mengandalkan berbagai macam bahan bakar. Arahnya memang ke sana. Jadi ini sudah semuanya dipersiapkan, sehingga industri pun juga punya pilihan, konsumen punya pilihan," jelas Kukuh.
Dalam catatan Kementerian ESDM, bioenergi merupakan penyumbang utama realisasi energi baru terbarukan pada tahun 2023 sebesar 60 persen, di mana biofuel menyumbang 35 persen.
Kukuh menyebutkan, dampak pencampuran etanol dalam bensin akan sangat positif untuk mengurangi konsumsi energi fosil yang mayoritas impor. Sebab, bahan baku etanol banyak ditemukan di dalam negeri, misalnya tebu, jagung, sorgum, hingga singkong.
"Jadi luar biasa dampaknya kalau kita menggunakan etanol sebagai campuran untuk bahan bakar bensin," tandasnya.
