Gaikindo: Tak Perlu Khawatir, BBM Etanol Sudah Dipakai di Amerika hingga Eropa
8 November 2025 15:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
ADVERTISEMENT
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) meminta masyarakat tidak khawatir dengan rencana mandatori pencampuran etil alkohol (etanol) dengan BBM alias bioetanol sebesar 10 persen (E10).
ADVERTISEMENT
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menyebutkan bioetanol sudah diimplementasikan secara global, mulai dari kawasan Eropa sebesar E5 dan E10, hingga India juga sudah menerapkan E10 dan E20.
"Secara global etanol sudah secara meluas dipergunakan. Di Eropa sudah dari E5 menjadi E10, Prancis E10 menuju ke E25, kemudian India E10 ke E20, China E5 menjadi E10, Thailand juga mengembangkan E10, E20, E85," ungkapnya saat Diskusi Publik Puskep UI, dikutip Sabtu (8/11).
Kukuh juga menyebutkan, Australia juga sudah menerapkan mandatori E10, sementara yang terdepan adalah Brasil yang sudah mengimplementasikan bioetanol E85 bahkan sudah memulai program E100 alias bahan bakar etanol murni.
"Mengenai gambaran secara global, enggak perlu khawatir mengenai etanol dipakai sebagai bahan campuran bensin. Selama kemudian kaidah-kaidahnya semua diikuti dengan benar," tegasnya.
ADVERTISEMENT
Di Indonesia, campuran BBM dengan etanol sudah diuji coba secara terbatas oleh PT Pertamina Patra Niaga melalui produk Pertamax Green 95 dengan kadar 5 persen (E5). Kukuh menegaskan, pihak industri sudah siap mengadopsi produk bioetanol.
"Implementasi E5 yang dilakukan oleh Pertamina, jadi kami dari industri kendaraan bermotor siap untuk mengadopsi hal ini. Jadi tidak terlalu jadi masalah," kata Kukuh.
Adapun Gaikindo sudah menggandeng kerja sama dengan Japan Automotive Manufacturing Association (JAMA) sejak tahun 2008 terkait kajian dampak etanol bagi kendaraan. Hasilnya, seluruh produksi kendaraan Jepang setelah tahun 2000 sudah cocok dengan E10.
"JAMA berani mengatakan bahwa E10 untuk kendaraan-kendaraan buatan Jepang itu harusnya sudah compatible, terutama yang sudah dibuat di tahun 2000 ke atas. Jadi etanol ini aman," tegas Kukuh.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, Kukuh mengamini bahwa semakin tinggi campuran etanol dalam BBM, maka semakin banyak persyaratan dan pengawasan standar mutunya.
Beberapa sorotan yaitu terkait korosifitas, tenaga, hingga kadar air. Namun, dia menegaskan bahwa pabrikan atau produsen sudah mengantisipasi dan menyesuaikan mesinnya dengan bahan bakar etanol.
"Kebanyakan pabrikan bermotor, pabrikan mobil, setuju untuk digunakan sampai E10. Dan itu bisa digunakan untuk sebagian besar kebanyakan mobil yang ada di pasaran saat ini. Kalau kemudian naik lagi, naik lagi ada beberapa penyesuaian yang perlu dilakukan," jelas Kukuh.
Kukuh juga mendorong pemerintah menyusun peta jalan (road map) penerapan E10 yang bertujuan mendorong perekonomian nasional maupun daerah. Sebab bahan baku etanol 10 persen berasal dari komoditas pertanian, yaitu singkong, jagung, tebu dan sorgum.
ADVERTISEMENT
“Semua pihak perlu bersinergi dan mengutamakan keunggulan daerahnya, misalnya etanol di Jawa Timur diproduksi dari tebu, di Lampung dengan bahan baku singkong, dan seterusnya,” tuturnya.
