Gantikan Shell, Pertamina Minat Masuk Blok Masela

8 September 2022 21:33
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati bersiap mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Foto: Antara/Puspa Perwitasari
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati bersiap mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Foto: Antara/Puspa Perwitasari
ADVERTISEMENT
PT Pertamina (Persero) menyatakan berminat untuk menggantikan Shell Upstream Overseas Ltd, menggarap Blok Masela. Hal ini seiring dengan perintah Presiden Jokowi agar BUMN masuk menjadi pengelola sumur gas tersebut.
ADVERTISEMENT
Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Kamis (8/9). Dia mengatakan pihaknya bersedia melanjutkan proses pembahasan untuk bergabung dalam konsorsium.
"Ini sesegera mungkin akan membuat, artinya kami menyatakan minat, namun untuk proses berikutnya ujung-ujungnya kita bicara komersial feasibility harga," kata Nicke saat rapat.
Dia mengatakan, Pertamina berminat untuk mendapatkan penemuan cadangan gas besar di Blok Masela. Hal ini juga akan turut berkontribusi besar pada tingkat produksi gas Pertamina yang semakin menurun.
"Tapi intinya kami berminat karena ini merupakan giant recovery yang bisa meningkatkan cadangan dari produksi gas. Karena kami melihat neraca gas cenderung decliner, maka ini harus segera dibangun," pungkasnya.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sebelumnya, Presiden Jokowi memerintahkan Pertamina dan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) untuk membuat konsorsium di Blok Masela. Perusahaan patungan ini yang nantinya akan menggantikan Shell Upstream Overseas Ltd yang hengkang dari proyek senilai USD 20 miliar atau setara Rp 287 triliun.
ADVERTISEMENT
Shell memiliki 35 persen hak partisipasi di Blok Masela. Setelah hengkang dua tahun lalu, hak tersebut dipegang Inpex Corporation yang selama ini memegang 65 persen di blok tersebut.
"Kemarin kami ratas dengan presiden. Ada blending antara INA (LPI), Pertamina, dan beberapa perusahaan lain dijajaki untuk membuat konsorsium," kata Menteri Investasi Bahlil Lahadalia saat ditemui usai rapat dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Kamis (8/9).
Untuk perusahaan lain yang berminat di blok ini, kata Bahlil, ada kemungkinan dari pihak asing. Namun dia belum bisa membeberkan karena masih terus dibahas formulasinya, termasuk kemampuan perusahaan dalam konsorsium terhadap teknologi yang dibutuhkan di blok tersebut.
"Jadi kita mencari (mitra) dalam konsorsium bukan cuma sahamnya (hak partisipasi) tapi juga teknologinya karena Shell yang selama ini punya," ujar dia.
ADVERTISEMENT
Bahlil berjanji akan memberikan kepastian proyek Blok Masela dalam 1-2 bulan ke depan, termasuk potensi molornya jadwal produksi (on stream) yang semula ditargetkan 2027. Pun dengan adanya kemungkinan investasi di ladang gas ini bertambah USD 1,3 miliar karena harus menerapkan teknologi Carbon Capture, Utilizaton, and Storage (CCUS).