Gelar Pertemuan Kedua, IAC B20 Bahas Isu Kesehatan, Keuangan dan Perempuan

19 Juli 2022 12:03
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Chair of B20 Indonesia, Shinta Kamdani , saat forum IAC B20. Foto: Dok. B20
zoom-in-whitePerbesar
Chair of B20 Indonesia, Shinta Kamdani , saat forum IAC B20. Foto: Dok. B20
ADVERTISEMENT
International Advocacy Caucus (IAC), kelompok yang terdiri dari sekitar 30 CEO global terkemuka dan pemimpin federasi bisnis dari negara-negara G20 yang menjadi pemandu Presidensi B20 telah menggelar forum pertemuan kedua secara daring pada Selasa (12/7).
ADVERTISEMENT
Untuk Presidensi B20 tahun ini, IAC memiliki tiga topik prioritas yang sejalan dengan Presidensi G20 Indonesia, yakni akses kesehatan yang setara, green transition dan pertumbuhan yang inklusif.
Pertemuan kedua IAC membahas tiga isu yang berkaitan dengan tiga topik prioritas tersebut, yaitu mencegah krisis kesehatan di masa depan melalui kolaborasi, mengakselerasi green financing atau keuangan hijau, dan mendukung peran perempuan dalam bisnis.
Chair of B20 Indonesia Shinta Kamdani dalam pembukaan pertemuan kedua IAC menyatakan komitmen B20 Indonesia untuk secara aktif mendukung upaya kolaboratif yang tengah berlangsung di negara-negara G20 melalui penyusunan rekomendasi konkret yang dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah negara G20.
“Dalam mencegah krisis kesehatan di masa depan, IAC melihat pandemi COVID-19 menjadi pelajaran penting. Untuk mengantisipasi munculnya krisis kesehatan di masa depan diperlukan kolaborasi dari semua pihak, utamanya pemerintah dan swasta,” tegas Shinta Kamdani.
ADVERTISEMENT
Dalam pidato pembukaan terkait B20 Legacy Program, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dan Co-Chair B20 Indonesia, Arsjad Rasjid, menyampaikan guna mempertahankan dan mendorong pemulihan lokal dan global serta menekan risiko volatilitas pasar keuangan, B20 Indonesia berkomitmen untuk menyusun B20 Legacy Program.
“B20 Legacy Program dirancang untuk memberikan hasil konkret dan dapat ditindaklanjuti melalui kolaborasi lintas batas yang akan bertahan melampaui periode jabatan B20 Indonesia serta meninggalkan dampak signifikan dan positif bagi komunitas G20 yang lebih luas,” ujarnya.
Ada enam B20 Legacy Program potensial di tiga topik prioritas IAC yakni Digitally-enabled pathogen monitoring system that is ‘Always On’, Global ‘One Shot’ campaign, Carbon Center of Excellence, Global Blended Finance Alliance yang diprakarsai oleh Tri Hita Karana, B20 Wiki dan One Global Women Empowerment.
ADVERTISEMENT
Mencegah krisis kesehatan di masa depan melalui kolaborasi dalam diskusi mengenai infrastruktur kesehatan global yang inklusif dan setara demi mencegah krisis kesehatan di masa depan melalui kolaborasi.
Chair of B20 Indonesia, Shinta Kamdani, saat forum IAC B20. Foto: Dok. B20
zoom-in-whitePerbesar
Chair of B20 Indonesia, Shinta Kamdani, saat forum IAC B20. Foto: Dok. B20
CEO GAVI-the Vaccine Alliance, Dr. Seth Berkley, menyoroti bahwa kolaborasi sektor swasta menjadi kunci untuk meningkatkan kesiagaan bangsa dalam mengantisipasi krisis kesehatan di masa depan.
“Kita perlu menekankan untuk beralih dari skenario bertindak dalam keadaan darurat, dengan pengawasan kurang merata, menjadi sistem pengawasan yang 'selalu aktif' dengan kapabilitas deteksi penyakit yang lebih andal untuk mencegah wabah secara berkelanjutan," jelas Dr. Seth Berkley.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Founder and Executive Chairman of the Tony Blair Institute for Global Change, Sir Tony Blair juga menekankan peluang yang dapat dimanfaatkan berdasarkan pembelajaran kolektif dari pandemi COVID-19 seperti dorongan besar untuk kemajuan layanan medis dan pertumbuhan infrastruktur digital dalam memajukan solusi perawatan kesehatan berbasis data.
ADVERTISEMENT
“Dunia bisnis dan pemerintah harus terus berkolaborasi untuk membangun infrastruktur, kebijakan, dan kerangka peraturan yang diperlukan untuk merevolusi sistem perawatan kesehatan kita dan mencapai kesehatan yang setara untuk semua,” jelas Sir Tony Blair.
Studi McKinsey memperkirakan bahwa investasi sebesar USD 285 miliar hingga USD 430 miliar dapat secara substansial mengurangi kemungkinan pandemi di masa depan. Investasi ini jauh lebih rendah dibandingkan biaya respons COVID-19 senilai USD 11 triliun dan estimasi kerugian pendapatan di masa depan sebesar USD 10 triliun.
Sementara itu, dalam diskusi tentang green transition yang mendorong percepatan green financing, Global Managing Partner, McKinsey and Company Bob Sternfels membagikan bahwa untuk membiayai transisi ekonomi ke net zero, dibutuhkan total modal untuk aset fisik selama transisi (rata-rata ~$3,5 trilliun pengeluaran baru, per tahun, hingga 2050) dan realokasi cara kita membelanjakan modal yang ada.
ADVERTISEMENT
“Investasi modal ini akan menciptakan peluang pertumbuhan signifikan dalam waktu dekat bagi perusahaan dan negara melalui beberapa langkah utama, termasuk meningkatkan teknologi dan produk ramah lingkungan, mendekarbonisasi aset dan proses yang ada, dan mengoptimalkan portofolio dengan menghentikan aset yang bersifat carbon intensive,” jelas Bob Sternfels.
Selaras dengan Bob Sternfels, CEO BloombergNEF Jon Moore mendorong agar pelaku bisnis dan lembaga pembiayaan untuk bekerja sama dalam menyederhanakan serta menstandarisasi panduan dan praktik bisnis berkelanjutan.
Jon Moore memaparkan tiga bidang fokus utama yang potensial untuk bisnis.“Pertama, bergabung dengan TCFD (Task Force on Climate Related Financial Disclosures) untuk menstandarisasi format pelaporan dan mendorong transparansi keuangan. Kedua, berpartisipasi dalam SBTi (Science Based Targets initiative). Ketiga, brkomitmen untuk mencapai target net zero,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan menjadi hal penting lain yang juga menjadi fokus IAC adalah isu terkait kesetaraan gender dan mendukung peran perempuan dalam bisnis. Berdasarkan riset McKinsey, kesetaraan gender di tempat kerja dapat menciptakan potensi kenaikan PDB yang signifikan sebesar USD 12 triliun secara global.
Maria Fernanda Garza, Chair International Chamber of Commerce dan CEO Orestia Mexico berfokus pada partisipasi perempuan dalam perdagangan global. Mengingat, pengusaha perempuan seringkali menghadapi hambatan hukum, komersial, dan budaya yang membatasi pertumbuhan bisnis mereka.
“Guna mengatasi hambatan tersebut, ada beberapa bidang spesifik untuk mempercepat inklusi perempuan dalam perdagangan lintas batas, termasuk action plan jelas untuk mengatasi kesenjangan gender pada tahun 2030, meningkatkan ketersediaan jaminan pembiayaan bagi para pengusaha perempuan, dan mengumpulkan gender disaggregated trade data,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
Anggota IAC lainnya juga menyuarakan gagasan bahwa inklusivitas perlu menjadi suatu keharusan bagi bisnis dan tanggung jawab bersama. Selain itu, perlu untuk melihat lebih dalam potensi-potensi best practice yang dapat ditingkatkan guna meningkatkan akses bagi perempuan.
Selama diskusi tersebut, berbagai pembicara dan anggota IAC juga menyuarakan dukungan dan kesediaannya untuk berkolaborasi secara aktif dengan B20 Indonesia untuk mengembangkan program-program B20 Indonesia seperti B20 Legacy Program dalam rangka mencapai tujuan bersama.