Bisnis
·
2 Februari 2021 11:45

Harga Kedelai Impor Melejit, Bentuk Tempe Akan Terus Menipis

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Harga Kedelai Impor Melejit, Bentuk Tempe Akan Terus Menipis (143372)
Pekerja mengangkat kacang kedelai saat produksi tahu di pabrik tahu Sumber Barokah di Kampung Karya Bhakti RT 04/04, Kelurahan Cilendek Barat, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (4/1/2021). Foto: Arif Firmansyah/ANTARA FOTO
Harga kedelai impor yang naik setiap bulan berdampak pada penurunan produksi dari perajin tempe. Para perajin tempe yang tergabung Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti DKI) akan menurunkan produksi hingga 20 persen menghadapi situasi saat ini.
ADVERTISEMENT
Ketua Primkopti DKI Jakarta Styaryo mengatakan kenaikan kedelai impor akan terjadi hingga 4 bulan ke depan. Saat ini harga kedelai impor Rp 9.000 per kilogram (kg), biasanya harga kedelai impor Rp 6.000 - Rp 7.000 per kg.
“Importir sekarang sudah naikin Rp 500 per kilo, jadi Rp 9 ribu per kilo. Bulan lalu Rp 8.500. Sampai Mei, abis Lebaran Rp 12 ribu per kilo,” katanya kepada kumparan, Selasa (2/2).
Harga Kedelai Impor Melejit, Bentuk Tempe Akan Terus Menipis (143373)
com-Tempe, makanan yang mengandung Bifidobacterium bifidum. Foto: Shutterstock
Saat ini perajin tempe tak bisa berbuat banyak untuk menyiasati kenaikan kedelai impor. Pilihan pertama, menipiskan irisan tempe yang dijual, dan kedua menaikkan harga tempe di pasaran.
Mereka akan selalu tergantung dengan harga kedelai dunia. Mereka pun memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam memproduksi tempe setiap hari.
ADVERTISEMENT
“Kalau enggak naikin harga ya ngecilin ukuran. Kalau enggak ya minus di modal,” tambahnya.
Styaryo mencontohkan, produksi tempe harian berkurang 50 kilogram (kg), menjadi 1 kuintal per hari.
“Atau mungkin mengurangi 10-20 persen untuk aman dijual. Dengan catatan konsumen tetap beli,” katanya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, impor kedelai Indonesia sepanjang semester I tahun 2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai USD 510,2 juta (sekitar Rp 7,52 triliun). Sebanyak 1,14 juta ton di antaranya berasal dari Amerika Serikat.