IMF: Mata Uang di Negara Berkembang Bisa Terus Melemah Sepanjang 2022

11 Januari 2022 11:29
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
IMF: Mata Uang di Negara Berkembang Bisa Terus Melemah Sepanjang 2022 (47952)
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva. Foto: Nicholas Kamm / AFP
Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksi sejumlah risiko dari perubahan kebijakan Bank Sentral AS, The Fed, terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satunya adalah pelemahan mata uang atau nilai tukar terhadap dolar AS.
ADVERTISEMENT
"Mata uang di pasar berkembang kemungkinan masih terdepresiasi," ujar Analis IMF, Stephan Danninger, Kenneth Kang dan Hélène Poirson, seperti dikutip kumparan dari analisa IMF, Selasa (11/1).
Pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS itu disebabkan kenaikan harga yang begitu cepat di AS karena kekhawatiran varian omicron, sehingga tingkat inflasi pun naik tajam di Negeri Paman Sam. Pasar tenaga kerja di AS juga terus meningkat.
Adapun kenaikan dua faktor tersebut menjadi kunci bagi The Fed untuk mempercepat pengurangan pembelian aset US Treasury atau disebut tapering off. Kebijakan ini nantinya juga akan disusul dengan kenaikan suku bunga acuan atau Fed Fund Rate, yang diperkirakan sejumlah analis dan ekonom akan dilakukan juga tahun ini.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
IMF menilai, jika kenaikan suku bunga AS dilakukan secara bertahap dan inflasi di negara tersebut kembali moderat, hal ini akan memberikan dampak yang tidak besar bagi negara berkembang.
"Sejarah menunjukkan bahwa efek untuk pasar negara berkembang kemungkinan besar tidak berbahaya, jika pengetatan dilakukan secara bertahap, direspons baik oleh pasar, juga pemulihan yang kuat," jelasnya.
Meski demikian, IMF menyebut dampak ke negara berkembang bisa kurang 'ramah' jika inflasi AS terus meningkat, pasokan terhambat, sehingga suku bunga AS juga akan naik secara berkelanjutan.
"Perkembangan ini bisa datang dengan perlambatan permintaan dan perdagangan AS, dapat menyebabkan arus modal keluar, dan depresiasi mata uang di pasar negara berkembang," tambahnya.