Bisnis
·
20 September 2020 11:15

INDEF: PSBB DKI Bikin Stimulus ke UMKM Terhambat

Konten ini diproduksi oleh kumparan
INDEF: PSBB DKI Bikin Stimulus ke UMKM Terhambat (21137)
Sejumlah perajin menyelesaikan pembuatan batik di industri rumahan di Rusun Marunda, Jakarta, Selasa (14/7/2020). Foto: M RISYAL HIDAYAT/ANTARA FOTO
Gelontoran dana untuk Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dianggap bakal kurang maksimal, di tengah kembali diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta.
ADVERTISEMENT
Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad, mengatakan stimulus tersebut memang digunakan untuk mengurangi kerugian, mengatasi masalah finansial, hingga membuat ekonomi bangkit dari dampak pandemi COVID-19. Ia mencontohkan dampaknya ke UMKM dengan adanya PSBB membuat demand-nya tertahan.
"Tentu saja ketika ada satu wilayah seperti DKI diperlukan PSBB otomatis kegiatan ekonomi akan mengendur atau berkurang dan artinya bahwa berbagai aktivitas atau bantuan ekonomi yang diberikan untuk UMKM ini akan terhambat begitu," kata Tauhid saat dihubungi, Minggu (20/9).
Tauhid mengungkapkan berbagai stimulus untuk UMKM seperti KUR dan restrukturisasi akan terdampak. Sementara itu penjaminan modal dan Bansos masih bisa berjalan lancar. Meski begitu, Tauhid menegaskan rantai pasok dari UMKM juga harus diperhatikan.
"Begitu permintaan barang dan jasanya pasti akan turun. Jadi logikanya begini akan tetap berkuranglah, berpengaruh,” ujar Tauhid.
INDEF: PSBB DKI Bikin Stimulus ke UMKM Terhambat (21138)
Pelaku UMKM nasabah BRI. Foto: Dok. BRI
"Kalau PSBB enggak diberlakukan, di luar Jakarta akan tetap berjalan seiring perbaikan ekonomi. Jadi kalau perbaikan ekonominya bergerak, maka tentu saja beberapa stimulus akan ada dampak, tapi kita lihat lagi keekonominya," kata dia menambahkan.
ADVERTISEMENT
Melihat kondisi saat ini, Tauhid merasa ada atau tidaknya PSBB di DKI, ekonomi triwulan tiga sudah tidak bisa diselamatkan alias masuk ke jurang resesi. Dia berharap semua pihak bisa menggenjot aktivitas ekonomi di triwulan IV atau triwulan I 2021.
"Genjot di akhir tahun 2020 atau awal 2021. Kan duitnya dikasih tapi tidak ada aktivitas ekonomi kan sulit, susah. Dan tentu saja contohnya saya pelaku usaha ya enggak mau nambah pinjaman lagi, takut enggak bisa bayar, yang ini aja utangnya udah banyak mau nambah pinjaman," katanya.