Indonesia Mampu Hadapi COVID-19, Ekonom: Akibat Skema Burden Sharing

5 September 2022 11:05
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Pengamat ekonomi, Aviliani. Foto: Joseph Pradipta/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengamat ekonomi, Aviliani. Foto: Joseph Pradipta/kumparan
ADVERTISEMENT
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai skema burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia dinilai sukses mengatasi krisis ekonomi akibat pandemi COVID-19.
ADVERTISEMENT
"Hal itu tidak terlepas dari kerja sama berbagai stakeholder, misalnya skema burden sharing pemerintah dengan BI, OJK dan juga departemen pemerintah yang bekerja sama tanpa ada hal-hal yang negatif, sehingga krisis pandemi sangat mudah diatasi," ujar Aviliani dalam acara Webinar Seri 3: Indonesia dan Presidensi G20, Senin (5/9).
Menurutnya krisis pandemi COVID-19 yang telah menekan ekonomi sejak tahun 2020 secara perlahan mulai berangsur pulih. Untuk itu, perkembangan, prospek dan relevansi terhadap ekonomi global menjadi perhatian pemangku kebijakan di berbagai negara baik negara maju hingga negara berkembang.
Meski begitu, pemulihan dari krisis pandemi COVID-19 yang mulai dilakukan nyatanya diikuti kemunculan krisis baru berupa krisis energi dan krisis pangan. Krisis energi tersebut bukan saja dipengaruhi keseimbangan (imbalance) dari permintaan dan penawaran di pasar global.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Salah satunya yakni krisis energi juga disebabkan oleh perang antara Rusia dan Ukraina yang mempengaruhi supply energi dan bahan pangan dunia. "Situasi yang demikian menyebabkan lonjakan inflasi di tengah penurunan pertumbuhan ekonomi dunia atau stagflasi," kata dia.
Di sisi lain, Indonesia baru saja akan menghadapi babak di mana terjadi peningkatan inflasi, akan tetapi pada negara maju angka inflasi sudah terlihat melambung tinggi. Sebagai respons terhadap perkembangan inflasi beberapa bank sentral dunia telah menaikkan suku bunga acuan.
Bank sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga acuan yang cukup agresif, sehingga menyebabkan tekanan nilai tukar di negara berkembang. Keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga juga dipengaruhi lonjakan inflasi yang sudah jauh dari target. Sejak akhir Desember 2021 inflasi AS di atas 7 persen dan mencapai level tertinggi sebesar 9 persen pada Juni 2022.
ADVERTISEMENT
"Pada bagian lain sektor ketenagakerjaan AS cukup solid dengan tingkat pengangguran terbuka 3,7 persen pada Agustus 2022," jelasnya.