kumparan
29 Jun 2018 19:15 WIB

Indorama Synthetics Bukukan Laba Rp 189 M di Kuartal I 2018, Naik 403%

Presdir PT Indorama Synthetics V. S. Baldwa (Foto: Selly Sandra/kumparan)
Pekan lalu, Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan (suspensi) saham PT Indorama Synthetics Tbk (INDR) di pasar tunai dan pasar reguler pada perdagangan Kamis (21/6). Sejak 6 Juni 2018, saham INDR sudah mencatatkan kenaikan hingga 53%. Hingga suspensi dilakukan, saham INDR berada di level Rp 8.375 per saham.
ADVERTISEMENT
Menanggapi hal tersebut, Presiden Direktur PT Indorama Synthetics Tbk V. S. Baldwa mengatakan, pihaknya juga mengaku heran dengan kenaikan harga saham yang cukup signifikan. Baldwa mengatakan, jika dilihat dari segi bisnis, pihaknya memang sedang mendulang keuntungan yang cukup besar di kuartal I 2018.
“Ini kami sudah ada keterbukaan informasi. Kuartal pertama keluar hasilnya bagus. Selain itu kami tidak tahu ada apa. Tapi kami mengimbau sama seperti yang dilakukan BEI, hati-hati juga. Dari harga saham Rp 1.200 naik ke Rp 10.000, turun ke Rp 7.000. Ini bukan casino ya,” ungkap Baldwa di Gedung BEI, Kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat (29/6).
Presdir PT Indorama Synthetics V. S. Baldwa (Foto: Selly Sandra/kumparan)
Menurut Baldwa, perseroan mencatatkan kenaikan signifikan pada laba bersih di sepanjang kuartal I 2018 menjadi USD 13,24 juta atau setara Rp 189 miliar kurs (Kurs Rp 14.287). Angka tersebut tumbuh 403% dibandingkan dengan laba bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar USD 2,63 juta atau Rp 37,57 miliar.
ADVERTISEMENT
Baldwa menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan laba bersih perseroan terdongkrak cukup signifikan. Beberapa faktor tersebut adanya penambahan kapasitas produksi, naiknya harga minyak mentah dan naiknya harga jual.
“Kapasitas naik, harga naik, margin juga naik. Harga minyak mentah naik, harga bahan baku naik, harga produk juga naik. Harga-harga naik membuat margin yang tadinya tipis jadi tebel,” ujarnya.
Menurut Baldwa, perusahaannya sangat bergantung pada harga minyak mentah. Sedangkan dalam dua tahun terakhir harga minyak mentah naik cukup signifikan dari USD 30 per barel menjadi Rp 80 per barel.
Meski demikian, Baldwa mengatakan, hal tersebut tidak dapat diprediksi. Namun menurutnya, prospek bisnis ke depan masih cukup baik.
“Kami tidak tahu apakah keuntungan seperti ini bisa terjadi di kuartal kedua. Tidak ada yang tahu misalnya nanti harga minyak mentah turun. Tapi sejauh ini prospek bisnis masih baik,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan