Jaga Stabilitas Rupiah, BI Pastikan Ketersediaan Pasokan Valas

20 Oktober 2022 20:28
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Perry Warjiyo (kiri) dan Destry Damayanti. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Perry Warjiyo (kiri) dan Destry Damayanti. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
ADVERTISEMENT
Bank Indonesia (BI) memastikan ketersediaan pasokan valuta asing alias valas di pasar keuangan. Hal tersebut dilakukan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
ADVERTISEMENT
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti mengungkapkan, pertumbuhan kredit valas sangatlah pesat. Per September 2022, kredit valas tumbuh 18,1 persen, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) 8,4 persen.
"Kalau kita lihat sumber pendanaannya dari DPK itu memang kesannya terbatas," kata Destry dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (20/10).
Padahal, kata dia, sumber pendanaan valas tersebut bisa lebih bervariasi. Tak hanya dari pinjaman, penerbitan surat utang yang dimiliki bank juga bisa digunakan untuk mendapatkan valas.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
BI akan terus mengamati perkembangan likuiditas valas. Tak hanya itu, BI akan langsung melakukan stabilisasi di pasar jika pasokan valas terbatas.
Menurut Destry, transmisi BI rate ke perbankan juga masih belum terjadi secara penuh. Suku bunga kredit masih tumbuhnya 20 bps sementara depositnya tumbuh 10 bps. "Artinya ini bank pun dalam posisi ingin terus dorong pertumbuhan kredit pertumbuhan itu sendiri yang sedang tumbuh pesat," sambung Destry.
ADVERTISEMENT
BI mencatat kondisi likuiditas di perbankan dan perekonomian tetap longgar. Pada September 2022, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masih tinggi mencapai 27,35 persen. Rasio ini tetap mendukung kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit, di tengah berlangsungnya normalisasi kebijakan likuiditas melalui kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah secara bertahap dan pemberian insentif GWM.
Likuiditas perekonomian juga tetap longgar, tercermin pada uang beredar dalam arti sempit (M1) dan luas (M2) yang tumbuh masing-masing sebesar 13,5 persen (yoy) dan 9,1 persen (yoy).
Lebih lanjut, dalam rangka pelaksanaan Kesepakatan Bersama Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia hingga 19 Oktober 2022 melanjutkan pembelian SBN di pasar perdana sejalan dengan program pemulihan ekonomi nasional serta pembiayaan penanganan kesehatan dan kemanusiaan dalam rangka penanganan dampak pandemi COVID-19 sebesar Rp 138,08 triliun. Likuiditas yang masih longgar tersebut turut memberikan dorongan untuk pemulihan ekonomi lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020