Bisnis
·
13 November 2020 17:53

Kadin Bakal Bantu 2 Juta Petani Genjot Produktivitas

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kadin Bakal Bantu 2 Juta Petani Genjot Produktivitas (104567)
Seorang petani menujukkan kakao yang mengalami pembusukan buah di Desa Powelua, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Foto: Basri Marzuki/Antara Foto
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menargetkan bakal membantu 2 juta petani untuk menggenjot produktivitas hasil pertanian hingga tahun 2023. Rencana tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis, Pangan, dan Kehutanan, Franky Oesman Widjaja.
ADVERTISEMENT
Franky mengeklaim, hingga saat ini Kadin sudah membantu sebanyak 1.028.030 petani melalui program PISAgro, atau Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture.
Dengan adanya program tersebut, mereka memberikan pendampingan, akses pasar, pendanaan, hingga infrastruktur kepada para petani.
"Pendampingan para petani, awal tahun ini kita sudah mencapai satu juta. Pendampingannya sangat sukses sehingga satu juta petani itu bisa meningkatkan produktivitasnya, pendapatannya naik," ujar Franky dalam virtual conference Jakarta Food Security Summit 5, Jumat (13/11).
Kadin Bakal Bantu 2 Juta Petani Genjot Produktivitas (104568)
Wakil Ketua KADIN Franky O Widjaja di Jakarta, Selasa (5/11). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Sejauh ini, menurut Franky, pendampingan tersebut sudah mencakup petani di sebagian besar daerah. Terutama para petani yang sudah merasakan naiknya produksi hingga dua kali lipat adalah petani komoditas sawit.
Ia berharap ke depan program pendampingan bisa menyasar berbagai komoditas lainnya, seperti jagung hingga palawija. Kadin menargetkan bisa memberikan pendampingan kepada dua juta petani hingga 2023.
ADVERTISEMENT
"Mudah-mudahan 2023 kita bisa tingkatkan jadi 2 juta pendampingan," sambungnya.
Dalam JFSS 5 yang bakal digelar 18-19 November 2020, rencana tersebut juga akan diusung ke dalam diskusi dengan semua stakeholder, baik pemerintah maupun perusahaan yang bergerak di sektor pertanian.
Saat ini, pola inti-plasma yang diterapkan membuat pengusaha bisa terlibat menjadi off taker dan membantu pemasaran. Selain itu, rencana tersebut bisa direalisasikan dengan adanya regulasi yang mendukung dari pemerintah.
"Kita butuh dukungan pemerintah mendorong dan memberikan business modul yang sama," pungkas Franky.