kumparan
25 Januari 2018 7:56

Kampanye Negatif Sawit RI: Mulai dari Isu Kesehatan Sampai Lingkungan

Kelapa Sawit
Kelapa Sawit (Foto: AFP/Adek Berry)
Kelapa sawit Indonesia tengah ramai dibicarakan di forum internasional. Yang terbaru adalah maskapai asal Belanda, KLM, yang mengajak masyarakat agar tidak menggunakan minyak sawit sebagai bahan olahan makanan serta tuduhan dumping dari Uni Eropa dan Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Memang diakui, sebagai penghasil sawit terbesar di dunia, Indonesia menghadapi berbagai macam kampanye hitam dari berbagai negara yang jelas-jelas tak suka. Isu yang dilancarkan juga beragam mulai dari kesehatan hingga lingkungan.
Uni Eropa (UE) misalnya. Otoritas di sana sejak tahun 1970-an sudah melaporkan bahwa minyak sawit tidak sehat. Padahal, menurut Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan semua minyak nabati konsumsi umumnya sama.
"Baik itu minyak kedelai, minyak bunga matahari, coconut oil, rapeseed oil, ataupun peanut oil ada baiknya, ada buruknya juga,” katanya kepada kumparan (kumparan.com), Kamis (25/1).
Kelapa Sawit
Kelapa sawit di kebun Sawindo Kencana. (Foto: Marcia Audita/kumparan)
Paulus menjelaskan, untuk bisa menghasilkan volume yang sama, sawit membutuhkan lahan yang jauh lebih sedikit dibandingkan komoditas lain yang juga memproduksi minyak nabati. Rapeseed misalnya, harus membutuhkan lahan lima kali lipat lebih besar dibandingkan sawit.
ADVERTISEMENT
“Malah kalau minyak kedelai itu butuh 10 kali lahan dibandingkan sawit. Jadi, bagaimana bisa mereka mengatakan semua itu lebih ramah lingkungan dibanding sawit?,” ujar Paulus.
Paulus juga mengatakan tuduhan tersebut juga pernah menguat di tahun 1990-an. Mereka, katanya, menuduh sawit perusak lingkungan dan hutan. Padahal, dengan melihat luas lahan sawit yang digunakan lebih sedikit dan produktivitasnya jauh lebih banyak, hal itu hanyalah klaim sepihak yang tidak mendasar.
“Produktivitas sawit Indonesia 4.000 kg per hektare per tahun, rapeseed 800 kg, minyak kedelai 500 kg. Untuk lahan sawit dunia sekitar 20 juta hektare, rapeseed 35 juta hektare, bahkan kedelai 100 juta hektare. Jelas kita lebih unggul karena termasuk yang paling kecil menggunakan lahan,” tegasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan