kumparan
Bisnis30 Maret 2020 7:35

Kasus Virus Corona di AS Melonjak, Wall Street Jatuh

Konten Redaksi kumparan
saham di Wall Street
Pekerja melihat pergerakan saham dari layar monitor di Wall Street di New York City. Foto: Eisele / AFP
Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street jatuh pada penutupan perdagangan Jumat (27/3). Hal itu terjadi setelah kembali muncul keraguan tentang nasib ekonomi AS dan melonjaknya jumlah kasus virus corona.
ADVERTISEMENT
Dilansir Reuters, Senin (30/3), Dow Jones Industrial Average merosot 4,06 persen menjadi 21.636,78 poin. Sedangkan S&P 500 kehilangan 3,37 persen menjadi 2.541,47. Nasdaq Composite turun 3,79 persen menjadi 7.502,38.
Bursa saham AS memperdalam kerugian mereka di akhir sesi, bahkan setelah Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui paket bantuan USD 2,2 triliun. Bantuan itu untuk individu dan perusahaan dalam mengatasi penurunan ekonomi yang disebabkan oleh virus corona dan menyediakan rumah sakit dengan kebutuhan mendesak serta suplai medis.
Kasus corona di AS telah melampaui China dan Italia sebagai negara dengan kasus virus corona terbanyak. Jumlah kematian melebihi 1.500 orang.
"Kami masih belum sepenuhnya memahami tingkat dampak ekonomi," kata Massud Ghaussy, analis senior di Nasdaq IR Intelligence di New York.
ADVERTISEMENT
"Saat ini, dari sudut pandang pembuat kebijakan, itu adalah keseimbangan relatif antara mengelola penyebaran virus dan membuka ekonomi."
Setelah pasar ditutup, Presiden AS Donald Trump menandatangani paket stimulus menjadi undang-undang. RUU itu, bersama dengan pelonggaran kebijakan Federal Reserve yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Hal itu membantu S&P 500 melonjak 10,2 persen untuk pekan kemarin atau terbaik sejak 2009. Namun patokan pasar saham AS masih turun sekitar 25 persen dari Februari.
Dow Jones melonjak 21 persen selama tiga hari berturut-turut hingga Kamis yang mengindikasikan kenaikan di pasar saham. Bahkan setelah penurunan Jumat, Dow Jones berakhir 12,8 persen lebih tinggi, pekan terbaik sejak 1938.
Ilustrasi Wall Street
Ilustrasi Wall Street Foto: Wikimedia Commons
Banyak investor melihat risiko yang kuat bahwa pasar dapat jatuh lebih dalam lagi karena infeksi virus corona meningkat dan lebih banyak orang meninggal.
ADVERTISEMENT
"Minggu depan akan tergantung pada apa yang terjadi selama akhir pekan," kata Lindsey Bell, kepala strategi investasi di Ally Invest.
"Jika ada percepatan besar pada akhir pekan kasus coronavirus di New York dan negara bagian lain dan sistem rumah sakit terus macet, maka saya pikir ini akan menjadi minggu yang berat bagi pasar."
Indikator ekonomi makro terlihat sekilas tentang kehancuran ekonomi akibat krisis karena lockdown di kota-kota besar bisa mengganggu kehidupan jutaan orang AS.
Sentimen konsumen AS turun ke level terendah dari 3 setengah tahun pada bulan Maret. Hal itu menurut survei yang dirilis pada hari Jumat atau sehari setelah data menunjukkan rekor kenaikan 3 juta klaim pengangguran pekan lalu.
ADVERTISEMENT
Volume perdagangan saham di Wall Street tercatat 13,4 miliar saham. Itu merupakan yang terendah sejak 5 Maret.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan