Kebijakan Bauran Bank Indonesia Akan Dicontoh Bank Sentral Negara Lain

7 Agustus 2019 14:22
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Kebijakan Bauran Bank Indonesia Akan Dicontoh Bank Sentral Negara Lain (65910)
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kanan) berjabat tangan dengan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti pada upacara pengucapan sumpah jabatan. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Kebijakan bauran (moneter dan makroprudensial) yang dilakukan Bank Indonesia (BI) demi mendorong pertumbuhan ekonomi akan dicontoh oleh bank sentral negara lain. Hal ini dinilai sebagai suatu terobosan untuk mendorong ekonomi domestik di tengah perlambatan global.
ADVERTISEMENT
"Policy mix ini terobosan bank sentral. Nah beberapa bank sentral akan mengikuti policy mix yang dilakukan BI," ujar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, usai pelantikan jabatan di Gedung Mahkamah Agung (MA), Jakarta, Rabu (7/8).
Adapun kebijakan moneter BI saat ini adalah melalui suku bunga acuan. BI telah menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) pada Juli 2019 menjadi 5,75 persen, penurunan ini merupakan pertama kalinya sejak 2017.
Sementara kebijakan makroprudensial dilakukan BI dengan cara menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) 50 bps menjadi 6 persen bagi perbankan konvensional dan 4,5 persen untuk perbankan syariah. Tujuannya adalah menambah likuiditas di perbankan.
Kebijakan Bauran Bank Indonesia Akan Dicontoh Bank Sentral Negara Lain (65911)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Namun demikian, Destry tak menyebutkan lebih lanjut bank sentral mana saja yang akan mengikuti jejak BI tersebut. Namun dia memastikan, saat ini arah kebijakan di sejumlah bank sentral negara lain adalah longgar.
ADVERTISEMENT
"Jadi kalau kita lihat tren dari suku bunga atau ekonomi global trennya adalah perlambatan dan kebijakannya cenderung untuk lebih easing, cenderung untuk melonggarkan," jelasnya.
Untuk arah kebijakan Bank Indonesia, Destry menjelaskan akan tetap dipengaruhi oleh dua faktor, global dan domestik. Faktor global akan dipengaruhi oleh perang dagang dan domestik oleh inflasi.
"Nampaknya kita melihat arah dari easing monetary policy (kebijakan moneter yang lebih longgar) ini akan kita lihat dalam jangka waktu cukup panjang ke depan, karena kita memang membutuhkan satu stimulus buat pertumbuhan ekonomi ke depannya," tambahnya.