Bisnis
·
24 November 2020 18:00

Kejar Produksi Minyak 1 Juta Barel, Blok Rokan Masih Jadi Andalan

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kejar Produksi Minyak 1 Juta Barel, Blok Rokan Masih Jadi Andalan (574237)
Pertamina Lifting Perdana Minyak Mentah Chevron di Blok Rokan. Foto: Dok. Pertamina
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memiliki target ambisius yaitu bisa memproduksi 1 juta barel minyak per hari pada 2030. Untuk mewujudkannya, SKK Migas memandang Blok Rokan masih menjadi andalan karena masih memiliki potensi cadangan yang besar.
ADVERTISEMENT
Pengelolaan Blok Rokan saat ini masih dikelola PT Chevron Pacific Indonesia (CPI). Masa kontraknya akan habis tahun depan dan akan diserahkan 100 persen ke PT Pertamina Hulu Rokan pada Agustus 2021.
Penasihat Ahli Kepala SKK Migas, Satya Widya Yudha, mengatakan potensi cadangan minyak dari Blok Rokan diperkirakan masih 2 miliar barel. Memperhatikan potensi yang ada, Satya memandang blok ini akan tetap menjadi tulang punggung produksi migas nasional dalam kurun waktu yang lama, melalui lapangan existing, optimalisasi lapangan, optimalisasi metode waterflood, steamflood, serta chemical EOR.
"Jadi wilayah kerja ini juga akan menjadi andalan untuk mendukung target produksi 1 juta barel di tahun 2030,” ungkapnya dalam Focus Group Discussion bertema 'Mengawal Transisi Rokan, Menjaga Produksi Nasional', Senin (23/11).
ADVERTISEMENT
Melihat peluang tersebut, SKK Migas berupaya agar masa transisi hingga 2021 dapat berjalan lancar. Upaya tersebut tidak hanya transisi terkait kegiatan operasi produksi namun juga hal krusial lainnya, yakni perizinan terkait tanah.
Sementara itu, Kepala Divisi Formalitas SKK Migas, Didik S. Setyadi, menyebut dari hasil identifikasi SKK Migas, ada tanah yang akan menjadi lokasi pemboran namun belum tersertifikasi sebagai milik CPI. Ada juga tanah yang masih dimiliki masyarakat.
Kejar Produksi Minyak 1 Juta Barel, Blok Rokan Masih Jadi Andalan (574238)
Pertamina Lifting Perdana Minyak Mentah Chevron di Blok Rokan. Foto: Dok. Pertamina
Kesiapan perizinan, kata dia, mutlak dilalui karena peralatan pemboran walaupun sudah siap akan terkendala jika tanah yang menjadi lokasi pemboran masih dikuasai pihak lain maupun status legalitasnya belum jelas. Karena itu, pihaknya saat ini mendorong agar perizinan tetap melekat di operator yang lama.
ADVERTISEMENT
“Melalui ODSP (One Door Service Policy), SKK Migas bersama CPI akan menyelesaikan izin-izin yang masih terbengkalai, hal ini bertujuan agar saat menunggu operator baru masuk, kegiatan operasi tidak terhenti. Tanggal 26 November 2020, daftar perizinan yang dibutuhkan oleh CPI sudah harus final,” terang Didik.
Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Divisi Pengadaan SKK Migas, Erwin Suryadi. Menurutnya, SKK Migas telah memiliki pengalaman mendampingi alih kelola blok non Pertamina ke Pertamina. "Setiap kasus kami jadikan pembelajaran, sehingga pada saat mengelola alih kelola WK Rokan, kami yakin investasi tetap bisa dilaksanakan," katanya.
Pengamat migas nasional, Mukhtasor, mengatakan alih kelola menjadi cukup rumit karena dalam kontrak kerja sama tidak mengatur hal-hal terkait alih kelola. Salah satu pasal dalam Permen (Peraturan Menteri) ESDM No. 15 Tahun 2015 menyebutkan operator baru boleh masuk 6 bulan sebelum kontrak berakhir.
ADVERTISEMENT
"Hal ini menjadi tidak efektif dan tidak akan mampu menjaga produksi saat operator baru masuk,” ungkapnya.
Kejar Produksi Minyak 1 Juta Barel, Blok Rokan Masih Jadi Andalan (574239)
Pertamina Lifting Perdana Minyak Mentah Chevron di Blok Rokan. Foto: Dok. Pertamina
Meski begitu, pihaknya mengapresiasi langkah yang dilakukan CPI dan SKK Migas yang berusaha mengawal alih kelola dengan baik, karena banyak hal yang tidak diatur tetapi dilakukan oleh CPI dan SKK Migas, agar alih kelola berjalan dengan baik. Salah satunya adalah penyusunan dokumen AMDAL tahun 2020.
Kata dia, tata kelola masa transisi harus diperbaiki dan saat ini berada diluar ranah SKK Migas. Ini momentum yang tepat agar kewenangan SKK Migas dalam hal transisi berakhirnya WK (wilayah kerja/blok) dapat diangkat, agar transisi ke depan bisa dilakukan dengan lebih baik.

Pentingnya Investasi di Blok Rokan

Para narasumber dalam acara kemarin menilai usaha peningkatan produksi di Blok Rokan dapat direalisasi apabila terdapat kecukupan investasi yang dibutuhkan. Praktisi migas, Hadi Ismoyo, menyampaikan dibutuhkan komitmen kuat dari Pertamina dan pemerintah, untuk mengadakan investasi puluhan juta dolar, karena kegiatan yang dilakukan harus cukup masif.
ADVERTISEMENT
Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, berharap Pertamina fokus menumpukan kekuatannya di Blok Rokan yang potensinya masih sangat besar dan sudah pasti hasilnya. Sementara Pengamat hulu migas lainnya, Abdul Muin menyebut cara meningkatkan produksi migas di Blok Rokan adalah melalui investasi yang agresif dan harus direalisasikan sesuai komitmen.
“Maka jika Pertamina kesulitan terkait biaya investasi, sebaiknya membuka opsi untuk bekerja sama dengan perusahaan lain. Hal ini jamak dilakukan industri hulu migas, karena juga akan berbagi risiko dan berkolaborasi sesuai keunggulan masing-masing,” pungkas Muin.