Kemendag: Harga Telur Ayam Sudah Turun 2,2 Persen Secara Nasional

8 September 2022 15:39 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Peternak memanen telur ayam di salah satu peternakan di kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (15/11).  Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Peternak memanen telur ayam di salah satu peternakan di kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (15/11). Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Syailendra mengungkapkan harga telur ayam ras menunjukkan tren penurunan di tingkat eceran secara nasional sebesar 2,2 persen pada Rabu (7/9). Adapun penurunan harga telur ayam paling banyak ditemukan di Pulau Jawa dan Sumatera sebagai sentra produksi telur ayam ras.
ADVERTISEMENT
"Rata-rata harga telur ayam ras di tingkat eceran di wilayah Jawa tercatat sebesar Rp 28.150 per kg atau turun 5,7 persen dibandingkan seminggu sebelumnya. Di wilayah Sumatera, harganya sebesar Rp28.890 per kg atau turun 1,1 persen," ujar Syailendra dalam keterangan tertulisnya, Kamis (8/9).
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia tercatat harga telur ayam ras di tingkat eceran turun sebesar Rp 30.800 per kg atau 2,2 persen dibandingkan seminggu sebelumnya Rp 31.500 per kg. Sementara itu, rata-rata harga di DKI Jakarta sebesar Rp 29.150 per kg atau telah turun 4,9 persen dibandingkan seminggu yang lalu Rp 30.650 per kg.
Tidak hanya itu saja, lanjut Syailendra, harga terendah Rp 28.000 per kg ditemukan di Pasar Senen, Pasar Minggu, Pasar Lenteng Agung, dan Pasar Pramuka. Kendati demikian, di beberapa pasar masih ada yang menjual dengan harga Rp32.000 per kg, seperti di Pasar Paseban, Pasar Tanah Abang, Pasar Rawa Badak dan Pasar Glodok.
Plt Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemeterian Perdagangan, Syailendra. Foto: Akbar Maulana/kumparan
Meskipun harga telur ayam telah mengalami tren penurunan secara nasional, di luar Jawa dan Sumatera masih menunjukkan harga yang tinggi, di atas Rp 30.000 per kg. Lalu, rata-rata harga telur ayam di wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencapai Rp 31.100 per kg atau turun 2,3 persen dibandingkan seminggu sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Kemudian, harga telur ayam di Kalimantan sebesar Rp 31.860 per kg atau turun 2,8 persen, Sulawesi sebesar Rp 30.950 per kg atau turun 2,7 persen dibandingkan seminggu sebelumnya. Maluku dan Papua sebesar Rp 37.800 per kg atau turun 0,6 persen dibandingkan seminggu sebelumnya.
Menurut Syailendra, produksi telur ayam ras terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera dengan total produksi mencapai 78 persen dari produksi nasional. Ia merincikan, pada Pulau Jawa sebesar 56 persen dan Sumatera 22 persen, sedangkan wilayah di luar Jawa dan Sumatera cenderung mengalami defisit pasokan, terutama di wilayah Maluku dan Papua yang biasanya disuplai dari wilayah Jawa.
“Selain karena defisit pasokan di luar Jawa dan Sumatra, faktor biaya distribusi dan risiko kerusakan telur, seperti telur busuk dan pecah, saat pengiriman juga menjadi salah satu penyebab terjadinya disparitas harga,” kata dia.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, kondisi sebaran produksi telur ayam ras yang terpusat di Jawa dan Sumatera pun menjadi cermin pada perkembangan harga telur ayam ras periode Januari hingga Juli 2022. Sebagai gambaran, rata-rata harga telur ayam ras di tingkat eceran di wilayah Jawa dan Sumatra secara bulanan selalu lebih rendah Rp 1.000 sampai dengan Rp 4.000 per kg dibandingkan dengan rata-rata harga nasional.
Hal tersebut juga terjadi pada 7 September 2022, rata-rata harga telur ayam ras di Jawa memiliki selisih sekitar Rp 2.650 per kg dibandingkan dengan rata-rata nasional. Syailendra juga menyampaikan, pergerakan harga di tingkat eceran selalu lebih lambat apabila dibandingkan dengan harga di tingkat peternak, karena para pedagang akan menghabiskan stok sebelumnya terlebih dahulu.
ADVERTISEMENT
“Oleh sebab itu, berdasarkan informasi yang kami sampaikan, target Menteri Perdagangan untuk menurunkan harga telur ayam ras dalam waktu dua minggu dan menuju harga normal sudah mulai terealisasi di wilayah sentra produksi Jawa dan Sumatra. Namun, untuk selanjutnya perlu menjadi perhatian kita bersama terkait dampak kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap harga keekonomian telur ayam ras baik di tingkat peternak maupun di konsumen yang akan sedikit terkoreksi,” pungkas Syailendra.