Kemenkeu Yakin Ekonomi RI Kian Kuat, Bisa Sentuh 5,4 Persen di Akhir Tahun

6 Agustus 2022 13:56
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Pekerja menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
ADVERTISEMENT
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal semakin menguat hingga akhir tahun 2022. Hal ini terbukti dari pendapatan nasional Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) tetap menguat sebesar 5,44 persen pada kuartal II 2022 secara year on year (yoy) meski diperhadapkan oleh ketidakpastian dan tren perlambatan ekonomi global.
ADVERTISEMENT
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Rahayu Puspasari mengatakan bahwa indikator yang mencerminkan pergerakan ekonomi ke depan (leading indicators) masih menunjukkan laju pemulihan yang stabil. Indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia kokoh berada di zona ekspansi dalam 11 bulan terakhir dan menguat di bulan Juli 2022.
"Ke depan, perekonomian diperkirakan masih akan melaju dengan kuat," ujar Rahayu dalam tulisannya seperti dikutip kumparan, Sabtu (6/8).
Hal ini ditopang oleh tingkat belanja masyarakat juga diperkirakan tetap stabil pada tingkat yang masih relatif tinggi di sepanjang bulan Juli. Namun demikian, tekanan dari gejolak perekonomian dunia perlu terus diwaspadai.
Pekerja melakukan bongkar muat tepung di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Senin (7/2/2022). Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja melakukan bongkar muat tepung di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Senin (7/2/2022). Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Selain itu, fluktuasi penyebaran kasus COVID-19 juga masih terjadi. Rahayu berharap, partisipasi masyarakat pada program vaksinasi, termasuk pemberian vaksin booster, perlu terus diakselerasi.
ADVERTISEMENT
"Konsistensi momentum pemulihan ekonomi di tahun 2022 merupakan kunci bagi perekonomian untuk melaju lebih tinggi di jangka menengah," jelas Rahayu.
Pertumbuhan Ekonomi 2022 Bisa Sentuh 5,4 Persen
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Untuk itu, Kementerian Keuangan memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2022 akan berada pada kisaran 5,1 – 5,4 persen.
Di sisi lain, pencapaian ini juga semakin memperkuat level perekonomian untuk terus melaju melampaui level prapandemi. Saat ini, level perekonomian sudah 6,8 persen di atas level PDB riil 2019.
"Relaksasi aturan perjalanan yang mendorong peningkatan konsumsi masyarakat, terutama di masa Ramadhan dan Lebaran, serta kinerja ekspor komoditas unggulan yang masih sangat kuat menjadi faktor kunci pendorong pertumbuhan triwulan ini," jelas Rahayu.
Ia menilai, laju konsolidasi fiskal tetap on-track dan tidak mendisrupsi laju pemulihan ekonomi. Konsumsi pemerintah kembali terkontraksi di triwulan II-2022 menjadi sebesar negatif 5,2 persen (yoy).
ADVERTISEMENT
Menurut Rahayu, belanja pemerintah terkait dengan penanganan pandemi masih dapat ditekan seiring dengan terkendalinya tingkat penyebaran virus di sepanjang triwulan II-2022. Lalu, pergeseran waktu pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan Gaji ke-13 menjadi bulan April dan Juni kepada ASN juga berdampak pada laju pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan II.
"Namun di tahun 2022, THR diberikan di bulan April, sementara Gaji ke-13 dibayarkan pada bulan Juli, sehingga memberikan base-effect pada pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan II," pungkasnya.
Lebih lanjut, Rahayu menambahkan, stabilitas pertumbuhan konsumsi juga tidak terlepas dari peran anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang dioptimalkan untuk menyerap tingginya tekanan inflasi global. Pasalnya, tingkat inflasi nasional sedang dalam tren yang meningkat, terutama dalam dua bulan terakhir.
ADVERTISEMENT
"Tingkat inflasi Indonesia masih relatif terkendali jika dibandingkan dengan negara lain, seperti AS, UK, Eropa, Singapura, Thailand, dan Filipina yang inflasinya melonjak hingga masing-masing sebesar 9,1 persen; 9,4 persen; 8,6 persen; 6,7 persen; 7,7 persen dan 6,1 persen pada periode yang sama (Juni-2022)," tandas Rahayu.